Pencarian jurnalis Anak Krakatau dihentikan setelah 10 hari. Pemantauan tetap berjalan dan operasi dapat dibuka jika ada petunjuk baru.
- Operasi SAR pencarian jurnalis Anak Krakatau resmi di hentikan setelah berlangsung selama 10 hari.
- Pencarian melibatkan 523 personel dan mencakup area hingga sekitar 8.509 mil laut persegi, tetapi delapan orang bersama KM Arupadhatu I belum di temukan.
- Pemantauan tetap dilakukan dan operasi SAR dapat dibuka kembali jika ditemukan petunjuk baru, sementara identifikasi DNA jenazah tanpa identitas di Pulau Enggano masih berlangsung.
PANDEGLANG, NGENELO.NET – Pencarian lima jurnalis, dua kru kapal, dan seorang pemandu yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau resmi di hentikan setelah berlangsung selama 10 hari. Meski operasi SAR gabungan di tutup, pemantauan terhadap keberadaan kapal KM Arupadhatu I tetap dilakukan dan pencarian dapat dibuka kembali apabila di temukan petunjuk baru.
Keputusan tersebut di umumkan Gubernur Banten Andra Soni dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (17/9/2026).
Penghentian ini setelah tim SAR gabungan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya selama rangkaian pencarian.
Andra mengatakan evaluasi operasi menunjukkan pencarian sudah tidak efektif untuk melanjutkan dalam bentuk operasi gabungan seperti sebelumnya.
“Sudah tidak efektif maka dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan ini di hentikan,” kata Andra, dalam konferensi pers tersebut.
Pencarian Jurnalis Anak Krakatau Libatkan 523 Personel
Operasi pencarian ini sejak rombongan di laporkan hilang kontak pada Senin (7/9/2026). Kapal yang membawa delapan orang tersebut sebelumnya berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, sekitar pukul 14.00 WIB untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Rombongan terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas.
Tiga orang lainnya adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, serta Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.
Menurut laporan, komunikasi dengan rombongan masih tercatat pada sekitar pukul 14.42 WIB. Setelah itu, kontak terputus sekitar pukul 15.04 WIB di kawasan perairan Selat Sunda.
Sejak laporan kehilangan di terima, tim SAR gabungan melakukan penyisiran melalui jalur laut, udara, serta sejumlah wilayah daratan. Tentunya yang di nilai berkaitan dengan kemungkinan pergerakan kapal.
Pada hari ke-10, area pencarian bahkan di perluas menjadi sekitar 8.509 mil laut persegi. Pencarian tersebut di bagi dalam 10 sektor dan melibatkan 523 personel SAR gabungan dengan puluhan kapal dari berbagai unsur.
13 objek Ditemukan, Tetapi Bukan Bagian Dari Kapal
Selama operasi, tim SAR menemukan sejumlah benda terapung di wilayah pencarian. Total terdapat 13 objek yang sempat di periksa karena di duga berpotensi memberikan petunjuk mengenai keberadaan KM Arupadhatu I.
Namun, pemeriksaan lebih lanjut tidak menemukan hubungan antara benda-benda tersebut dengan kapal yang membawa rombongan jurnalis.
Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan bahwa objek yang di temukan telah di konfirmasi dan di periksa oleh unsur kepolisian perairan. Hasil pemeriksaan menunjukkan benda-benda tersebut tidak berkaitan dengan KM Arupadhatu I.
Kondisi itu membuat tim SAR tidak memperoleh petunjuk yang cukup untuk menentukan lokasi kapal maupun delapan orang yang masih belum di ketahui keberadaannya.
Sebelum operasi di hentikan, pencarian justru sempat di perluas secara signifikan. Pada hari ke-10, wilayah penyisiran mencakup perairan Banten, Lampung hingga kawasan yang mengarah ke Bengkulu.
Perluasan dilakukan dengan mempertimbangkan kemungkinan pergerakan objek akibat arus dan kondisi perairan Selat Sunda.
Pemantauan Tetap Dilakukan Setelah Operasi Dihentikan
Penghentian operasi SAR tidak berarti seluruh upaya pemantauan di hentikan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan pihaknya tetap melakukan pemantauan melalui sejumlah unsur yang berada di perairan Selat Sunda.
Pemantauan dilakukan melalui koordinasi dengan VTS, unsur TNI AL, Polairud serta kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.
“Dan apabila itu ada tanda-tanda, operasi SAR akan di buka kembali,” kata Al Amrad.
Dengan mekanisme tersebut, informasi dari masyarakat maupun kapal yang melintas tetap menjadi bagian penting dalam upaya menemukan petunjuk baru.
Artinya, keputusan 17 September merupakan penghentian operasi pencarian gabungan yang telah berlangsung selama 10 hari, bukan penutupan kemungkinan pencarian secara permanen.
Perkembangan Identifikasi Jenazah di Pulau Enggano
Perkembangan lain yang mendapat perhatian dalam kasus ini adalah di temukannya jenazah laki-laki tanpa identitas di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.
Jenazah tersebut di temukan di kawasan pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, pada Sabtu (12/9/2026).
Polda Banten kemudian berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk melakukan pencocokan data antemortem dan sampel DNA keluarga rombongan KM Arupadhatu I.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli A Hutapea mengatakan proses pencocokan tersebut masih berlangsung dan membutuhkan waktu sekitar dua pekan.
“Data antemortem dan sampel DNA keluarga dari posko kita di Banten sudah di serahkan ke Polda Bengkulu untuk persesuaian,” kata Maruli dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Kamis (17/9/2026).
Karena proses identifikasi belum selesai, jenazah tersebut belum dapat di nyatakan sebagai bagian dari rombongan KM Arupadhatu I.
Di wartakan sebelumnya, jenazah berjenis kelamin laki-laki itu di perkirakan berusia sekitar 50 tahun dengan tinggi sekitar 163 sentimeter. Saat di temukan, jenazah mengenakan celana pendek selancar.
Hasil pencocokan DNA menjadi salah satu perkembangan yang masih di tunggu setelah operasi pencarian di laut resmi di hentikan.
Delapan Orang Masih Menjadi Perhatian Pencarian
Delapan orang yang berada dalam rombongan KM Arupadhatu I masih belum di temukan hingga operasi SAR gabungan ditutup.
Kelima jurnalis tersebut sebelumnya berada di kawasan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan. Mereka adalah M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhistiro, Firdaus, dan Donal.
Sementara tiga orang lainnya adalah Warta, Surakman, dan Heriyanto.
Selama 10 hari, tim gabungan memperluas area pencarian berdasarkan perkembangan informasi, kondisi laut, pemodelan kemungkinan pergerakan objek, serta kemampuan armada yang di kerahkan.
Pada hari terakhir operasi, Basarnas membagi area menjadi 10 sektor dengan total jangkauan 8.509 mil laut persegi. Armada yang di kerahkan mencakup kapal Basarnas, unsur TNI AL, Polairud, dan kapal patroli lainnya.
Meski seluruh upaya tersebut belum menghasilkan lokasi kapal maupun rombongan, unsur terkait masih membuka ruang bagi munculnya informasi baru dari perairan Selat Sunda.
Dengan penghentian operasi SAR, perhatian berikutnya tertuju pada hasil pemantauan di lapangan. Serta proses identifikasi DNA jenazah tanpa identitas yang di temukan di Enggano.
Kedua perkembangan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan apakah nantinya muncul petunjuk baru mengenai keberadaan delapan orang yang hilang kontak bersama KM Arupadhatu I.
