ROV mulai digunakan pada hari keenam pencarian KM Virgo untuk mengamati bangkai kapal dan membantu penyelam mencari korban.
- ROV membantu pencarian korban KM Virgo. Robot bawah air atau Remotely Operated Vehicle (ROV) Basarnas untuk mengamati posisi dan kondisi bangkai KM Virgo Transport 8 di bawah laut serta membantu memberikan gambaran area yang akan di periksa penyelam.
- ROV mulai di pakai pada hari keenam operasi SAR. Pada 18 September 2026, tim melakukan survei bawah laut dengan ROV di sekitar bangkai kapal yang berada di kedalaman sekitar 24–29 meter. Teknologi ini kembali di manfaatkan untuk melihat bagian dalam kapal dan membantu mengarahkan penyelam.
- Penyelam tetap berperan langsung dalam menemukan dan mengevakuasi korban. ROV berfungsi memberikan visualisasi kondisi bawah air, sedangkan pencarian dan evakuasi korban oleh tim penyelam. Hingga 21 September 2026 pukul 16.00 WITA, Basarnas mencatat 108 orang selamat, 13 meninggal dunia, dan 122 orang masih dalam pencarian.
Banjarmasin, Ngenelo.net, — Upaya pencarian korban KM Virgo Transport 8 dilakukan dengan berbagai peralatan, termasuk robot bawah air atau Remotely Operated Vehicle (ROV). Perangkat ini digunakan untuk membantu tim SAR melihat kondisi kapal yang berada di dasar laut dan memberikan gambaran kepada penyelam sebelum melakukan pencarian.
Penggunaan ROV mulai dilakukan pada hari keenam operasi SAR, Jumat, 18 September 2026. Saat itu, tim melakukan survei bawah laut untuk mengetahui posisi dan kondisi badan KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Keberadaan ROV menjadi penting karena pencarian di sekitar bangkai kapal menghadapi kondisi bawah laut yang tidak mudah. Arus dan kondisi kapal yang berada di kedalaman membuat penyelam membutuhkan informasi visual sebelum masuk dan menyisir bagian-bagian tertentu.
Seperti Apa Robot ROV yang Digunakan?
ROV merupakan kendaraan bawah air yang di kendalikan dari permukaan. Perangkat ini di lengkapi kamera sehingga operator dapat melihat kondisi objek yang berada di bawah permukaan laut.
Dalam operasi KM Virgo Transport 8, ROV untuk mengamati posisi dan kondisi badan kapal. Hasil pengamatan tersebut kemudian memberikan informasi kepada tim yang berada di permukaan dan menjadi bagian dari persiapan pencarian di sekitar maupun di dalam kapal.
Dengan kemampuan tersebut, tim tidak harus langsung mengandalkan penyelam untuk melihat setiap bagian bangkai kapal.
Penggunaan ROV juga memungkinkan tim mendapatkan gambaran mengenai kondisi bawah air sebelum menentukan langkah penyelaman berikutnya.
ROV Mulai Digunakan pada Hari Keenam
Penggunaan ROV dalam operasi pencarian KM Virgo Transport 8 di mulai pada Jumat, 18 September 2026.
Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo Nur Sasongko menjelaskan bahwa tim salvage melakukan survei bawah air menggunakan ROV sekitar pukul 12.30 WITA.
Survei tersebut dilakukan untuk mengetahui posisi dan kondisi badan kapal yang berada di bawah laut. Informasi dari survei menjadi salah satu bahan untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Pada tahap ini, fungsi ROV tidak hanya berkaitan dengan pencarian korban. Tim juga membutuhkan gambaran kondisi kapal untuk mendukung proses penanganan bangkai kapal.
KM Virgo Tenggelam di Perairan Masalembo
KM Virgo Transport 8 berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Sabtu, 12 September 2026.
Kapal kemudian menghadapi kondisi cuaca buruk ketika melintasi perairan Laut Jawa.
Pada Minggu, 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 WITA, kapal dilaporkan hilang kontak. Tim SAR kemudian melakukan pencarian dan menemukan KM Virgo Transport 8 dalam kondisi terbalik di sekitar perairan Masalembo.
Berdasarkan manifes, terdapat 243 orang di dalam kapal.
Sejak saat itu, Basarnas bersama unsur SAR gabungan melakukan pencarian melalui jalur laut dan udara. Korban yang di temukan dalam kondisi selamat langsung di evakuasi, sementara pencarian terhadap korban lainnya terus dilakukan.
Mengapa ROV Dibutuhkan?
Pencarian korban di dalam bangkai kapal memiliki tantangan tersendiri.
Kapal berada di bawah permukaan laut dan sejumlah bagian di dalamnya sulit di periksa secara langsung. Penyelam juga harus memperhitungkan kondisi arus serta keselamatan selama berada di dalam bangkai kapal.
Karena itu, kamera dan sistem pengendalian ROV memberikan keuntungan bagi tim. Operator dapat melihat kondisi tertentu dari bawah laut sebelum penyelam melakukan pemeriksaan secara langsung.
Teknologi ini juga dapat membantu tim menentukan area yang perlu mendapat perhatian lebih dalam pencarian.
Bukan ROV yang Mengangkat Korban
Meskipun di sebut sebagai robot yang membantu pencarian korban, ROV bukan perangkat yang secara mandiri mengangkat korban dari dalam kapal.
Fungsi utamanya adalah memberikan gambaran visual mengenai kondisi bawah laut dan bagian kapal yang di periksa.
Pada operasi berikutnya, hasil pantauan ROV untuk membantu penyelam mengetahui kondisi lorong dan bagian dalam bangkai KM Virgo Transport 8.
Penyelam tetap menjadi tim yang melakukan pemeriksaan langsung, menemukan korban, kemudian melakukan proses evakuasi.
Perbedaan fungsi ini penting agar penggunaan teknologi ROV dalam operasi KM Virgo tidak di salahartikan sebagai robot yang secara langsung menemukan seluruh korban.
Tiga Korban Ditemukan pada Hari Keenam
Penggunaan ROV berlangsung ketika operasi SAR memasuki perkembangan penting.
Pada Jumat, 18 September 2026, tim SAR gabungan menemukan tiga korban meninggal dunia dari dalam badan KM Virgo Transport 8.
Ketiga korban di temukan pada kedalaman sekitar 24 meter. Temuan tersebut membuat jumlah korban meninggal yang berhasil di temukan hingga hari keenam menjadi sembilan orang.
ROV Kembali Membantu Penyelaman
Peran ROV semakin terlihat dalam pencarian pada hari kedelapan operasi SAR.
Pada Minggu, 20 September 2026, Basarnas menggunakan ROV untuk menggambarkan kondisi bagian dalam bangkai KM Virgo Transport 8.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin sekaligus SAR Mission Coordinator, I Putu Sudayana, menjelaskan bahwa ROV digunakan untuk menelusuri lorong-lorong di dalam kapal.
Hasil visualisasi tersebut kemudian menjadi panduan bagi penyelam untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, operasi ROV juga menghadapi kendala. Arus bawah laut yang kuat membuat pergerakan perangkat dan kegiatan penyelaman menjadi lebih sulit. Kecepatan arus bahkan mencapai sekitar tiga knot pada kondisi tertentu.
Satu Korban Ditemukan di Dalam Kapal
Pada Minggu, 20 September 2026, penyelam Basarnas Special Group atau BSG menemukan satu korban meninggal dunia di dalam badan KM Virgo Transport 8.
Penemuan tersebut terjadi setelah tim melakukan penyisiran di bagian dalam kapal.
Korban kemudian di evakuasi untuk mendapatkan penanganan dan proses identifikasi lebih lanjut.
Hingga Minggu, jumlah orang yang telah di temukan mencapai 118 orang. Rinciannya terdiri atas 108 orang selamat dan 10 orang meninggal dunia, sementara 125 orang masih dalam pencarian dari total 243 orang dalam manifes.
Dua Korban Kembali Ditemukan
Pencarian berlanjut pada Senin, 21 September 2026.
Penyelam BSG kembali menemukan dua korban meninggal dunia di dalam badan KM Virgo Transport 8.
Korban pertama di temukan pada pukul 09.04 WITA dan korban kedua pada pukul 09.13 WITA.
Keduanya kemudian di evakuasi menggunakan Helikopter HR 3601 untuk menjalani proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
Temuan tersebut membuat jumlah korban meninggal yang di temukan bertambah menjadi 12 orang, sementara 108 orang tercatat selamat. Pada saat itu, 123 orang masih dalam pencarian.
Satu Korban Kembali Ditemukan Senin Siang
Penyisiran di dalam badan kapal terus berlanjut pada Senin siang. Pada pukul 14.24 WITA, penyelam kembali menemukan satu korban meninggal dunia di dalam KM Virgo Transport 8.
Dengan penemuan tersebut, hingga pukul 16.00 WITA jumlah orang yang telah di temukan mencapai 121 orang. Basarnas mencatat 108 orang selamat, 13 orang meninggal dunia, dan 122 orang masih dalam pencarian dari total 243 orang dalam manifes.
Teknologi Membantu Pencarian di Dalam Bangkai Kapal
Penggunaan ROV menunjukkan bagaimana teknologi dapat membantu tim SAR menghadapi kondisi bawah laut yang sulit.
Perangkat tersebut memberikan gambaran visual yang tidak mudah di peroleh dari permukaan. Informasi itu kemudian dapat untuk menentukan area yang akan di periksa oleh penyelam.
Dalam pencarian KM Virgo Transport 8, ROV bukan pengganti penyelam. Perangkat tersebut menjadi alat pendukung agar penyelam memiliki informasi lebih baik sebelum melakukan pemeriksaan langsung.
Kombinasi antara teknologi bawah air, kemampuan penyelam, kapal SAR, dan dukungan udara menjadi bagian dari upaya Basarnas dan unsur SAR gabungan untuk menemukan korban yang masih belum di ketahui keberadaannya.
Pencarian Korban KM Virgo Masih Berlangsung
Hingga Senin, 21 September 2026, operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 masih berlangsung.
Tim SAR terus melakukan penyisiran di sekitar lokasi kapal dan bagian dalam bangkai kapal. Kondisi cuaca serta arus laut menjadi faktor penting dalam menentukan kegiatan penyelaman.
Teknologi ROV juga menjadi salah satu perangkat untuk membantu tim mendapatkan gambaran kondisi bawah laut.
Dengan masih adanya 122 orang yang belum di temukan berdasarkan data hingga pukul 16.00 WITA, operasi pencarian masih menjadi fokus utama tim SAR.
