Jenazah Enggano teridentifikasi sebagai Surakman. Tujuh korban KM Arupadatu I masih hilang dan Basarnas lanjutkan pemantauan.
- Jenazah Enggano yang ditemukan pada 12 September 2026 telah teridentifikasi sebagai Surakman atau Sukarman, kru KM Arupadatu I.
- Polda Banten memastikan identitas Surakman melalui pemeriksaan DVI Pusdokkes Polri dan pencocokan DNA keluarga.
- Tujuh orang lainnya yang berada dalam rombongan KM Arupadatu I masih belum diketahui keberadaannya, sementara Basarnas melanjutkan pemantauan dan koordinasi lintas wilayah.
Ngenelo.net, Banten, – Temuan Jenazah di Pulau Enggano, Bengkulu, akhirnya teridentifikasi sebagai Surakman atau Sukarman (60), salah satu kru KM Arupadatu I yang hilang bersama lima jurnalis dan satu kru lainnya saat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026.
Polda Banten memastikan identitas tersebut melalui pemeriksaan ilmiah tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri. Hasil pemeriksaan DNA mencocokkan sampel jenazah dengan data antemortem keluarga Surakman.
Perkembangan ini menjadi titik terang dalam kasus hilangnya delapan orang di perairan Selat Sunda. Namun, keberadaan KM Arupadatu I masih belum terungkap, sementara tujuh orang lainnya masih dalam pencarian.
Jenazah Enggano Dipastikan Milik Kru KM Arupadatu I
Warga pertam kali menemukan jenazah tersebut di kawasan pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu, 12 September 2026.
Saat itu, warga dan petugas belum mengetahui identitas korban. Kondisi jenazah juga membuat petugas tidak dapat mengandalkan pengenalan secara visual.
Polda Banten kemudian mengirimkan data antemortem keluarga korban untuk proses identifikasi. Tim DVI Pusdokkes Polri membandingkan data tersebut dengan material pemeriksaan jenazah.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menjelaskan bahwa proses identifikasi menghadapi kendala karena kondisi fisik jenazah mengalami kerusakan setelah lama berada di air. Karena itu, pemeriksaan ilmiah menjadi bagian penting dalam memastikan identitas korban.
Hasil pemeriksaan akhirnya menunjukkan jenazah tersebut identik secara genetik dengan Surakman. Pemeriksaan juga mengonfirmasi hubungan biologis Surakman dengan Yayat, anaknya.
Penemuan di Enggano Terhubung dengan Hilangnya Delapan Orang
Surakman merupakan salah satu dari tiga kru KM Arupadatu I yang membawa lima jurnalis menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Rombongan berangkat dari wilayah Carita, Pandeglang, pada 7 September 2026. Setelah kapal hilang kontak di perairan Selat Sunda, tim SAR melakukan pencarian terhadap delapan orang yang berada di dalam kapal tersebut.
Lima orang dalam rombongan merupakan jurnalis, sedangkan tiga lainnya terdiri atas kru kapal dan pemandu. Pencarian berlangsung selama beberapa hari dengan melibatkan unsur SAR dan instansi terkait.
Penemuan jenazah di Enggano kemudian menjadi salah satu perkembangan penting dalam pencarian tersebut. Namun, hasil identifikasi Surakman belum menjawab keberadaan KM Arupadatu I maupun tujuh orang lainnya.
Posisi KM Arupadatu I Belum Ditemukan
Kapolda Banten menyatakan posisi KM Arupadatu I sampai 23 September 2026 belum ada perkembangan baru keberadaannya.
βYang pasti sampai dengan sekarang Arupadatu I tidak ada yang ditemukan,β kata Hengki dalam keterangan mengenai perkembangan kasus tersebut.
Artinya, identifikasi Surakman baru menjawab identitas satu korban. Lima jurnalis dan dua kru lainnya masih belum ada informasi terbaru keberadaannya.
Kondisi tersebut membuat perkembangan di wilayah pesisir dan perairan tetap menjadi perhatian. Terutama karena jenazah Surakman berada jauh dari lokasi terakhir rombongan berada.
Basarnas Tetap Pantau Perairan Meski Operasi SAR Ditutup
Basarnas Banten menyatakan operasi pencarian resmi telah ditutup setelah berlangsung selama 10 hari. Meski demikian, penghentian operasi tidak berarti seluruh pemantauan berhenti.
Kepala Kantor Basarnas Banten Al Amrad mengatakan pihaknya tetap berkoordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung. Pemantauan juga mencakup wilayah pesisir dengan melibatkan kelompok nelayan setempat.
Langkah tersebut memungkinkan informasi baru dari nelayan atau kapal yang melintas tetap masuk ke jaringan koordinasi SAR. Basarnas juga menyebut pemantauan di sejumlah wilayah perairan masih berjalan meski hasil sementara belum menemukan korban lainnya.
Perkembangan ini penting karena temuan jenazah di Enggano menunjukkan bahwa keberadaan korban dapat muncul di wilayah yang berada jauh dari lokasi awal hilangnya kapal.
Jenazah Surakman Dipulangkan ke Keluarga
Setelah proses identifikasi selesai, jenazah Surakman akan berangkat dari Bengkulu menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis, 24 September 2026.
Polda Banten menyatakan pemerintah daerah bersama Basarnas akan menerima kedatangan jenazah sebelum menyerahkannya kepada keluarga di Pandeglang.
Bagi keluarga, kepastian identitas tersebut mengakhiri penantian terkait keberadaan Surakman sejak kapal kehilangan kontak. Namun, keluarga tujuh korban lain masih menunggu perkembangan mengenai keberadaan anggota keluarganya.
Pemerintah Provinsi Banten juga menyatakan akan mendampingi keluarga Surakman dalam proses pemulangan dan pemakaman.
Kasus KM Arupadatu I kini memasuki fase berbeda. Identitas satu korban sudah terungkap melalui pemeriksaan DNA, tetapi keberadaan kapal dan tujuh orang lainnya masih menjadi bagian yang belum terjawab.
Basarnas tetap membuka jalur koordinasi dengan unsur SAR di wilayah lain serta masyarakat pesisir untuk memantau kemungkinan adanya informasi baru mengenai rombongan tersebut.
