Indonesia memiliki 127 gunung api aktif, dengan 69 dipantau efektif. Simak tipe, pemantauan, dan perkembangan aktivitas terbarunya.
- Indonesia memiliki 127 gunung api aktif, terdiri dari 77 gunung api Tipe A, 29 Tipe B, dan 21 Tipe C.
- Sebanyak 69 gunung api dipantau secara efektif melalui Pos Pengamatan Gunung Api.
- Sejumlah gunung api menjadi perhatian setelah mengalami erupsi dalam waktu berdekatan, termasuk Gunung Sinabung, Semeru, Ili Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Anak Krakatau.
- Gunung Sinabung dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 31 Agustus 2026.
- Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III Siaga berdasarkan laporan Badan Geologi terbaru.
- PVMBG mengingatkan bahwa erupsi sejumlah gunung yang terjadi berdekatan waktunya tidak otomatis menunjukkan adanya hubungan proses antar-gunung.
BENGKULU, NGENELO.NET, – Indonesia memiliki 127 gunung api aktif, tersebar di berbagai wilayah mulai dari Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara hingga Maluku dan Sulawesi. Dari jumlah tersebut, 69 gunung api dipantau secara efektif melalui Pos Pengamatan Gunung Api, sementara aktivitas sejumlah gunung kembali menjadi perhatian setelah beberapa erupsi terjadi dalam waktu berdekatan pada akhir Agustus hingga awal September 2026.
Data tersebut kembali mendapat perhatian publik setelah Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga dan Gunung Sinabung di naikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 31 Agustus 2026. Badan Geologi juga terus menerbitkan laporan perkembangan aktivitas kedua gunung tersebut.
Angka 127 gunung api aktif tidak berarti seluruhnya sedang erupsi. Istilah tersebut mencakup gunung api dengan karakter dan riwayat aktivitas vulkanik yang berbeda. Karena itu, status aktivitas masing-masing gunung harus dilihat berdasarkan hasil pemantauan terbaru PVMBG dan Badan Geologi.
127 Gunung Api Aktif Indonesia Terbagi dalam Tiga Tipe
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengelompokkan 127 gunung api aktif di Indonesia berdasarkan sejarah letusan dan karakter aktivitas vulkaniknya.
Data yang di sampaikan Badan Geologi menunjukkan terdapat 77 gunung api Tipe A, 29 Tipe B, dan 21 Tipe C Pembagian tersebut membantu menggambarkan karakter masing-masing gunung api, bukan menunjukkan bahwa semua gunung dalam satu tipe memiliki tingkat bahaya yang sama.
Gunung api Tipe A merupakan gunung api yang memiliki catatan sejarah letusan sejak 1600. Tipe B memiliki catatan letusan sebelum 1600, sedangkan Tipe C tidak mempunyai catatan letusan sejarah, tetapi masih memperlihatkan jejak aktivitas vulkanik.
Dengan demikian, status βaktifβ perlu dibedakan dari status tingkat aktivitas. Gunung api aktif dapat berada pada kondisi Normal, Waspada, Siaga, atau Awas sesuai hasil pengamatan.
Hal tersebut penting dipahami karena perubahan status bukan ditentukan semata-mata oleh apakah sebuah gunung pernah meletus. PVMBG menggunakan berbagai parameter pemantauan untuk menilai perkembangan aktivitas vulkanik.
Tidak Semua 127 Gunung Dipantau dengan Cara yang Sama
Dari 127 gunung api aktif tersebut, 69 gunung api dipantau secara efektif melalui Pos Pengamatan Gunung Api. Informasi Badan Geologi menyebut sebagian gunung api lainnya berada di bawah laut sehingga memerlukan pendekatan pemantauan yang berbeda.
Kondisi geografis Indonesia menjadi salah satu tantangan dalam pemantauan. Gunung api tersebar di wilayah yang sangat luas, sementara karakter setiap gunung berbeda.
Karena itu, keberadaan Pos Pengamatan Gunung Api menjadi bagian penting dari sistem mitigasi. Data visual dan instrumental dari lapangan kemudian digunakan untuk mengevaluasi perubahan aktivitas.
Pemantauan tersebut mencakup berbagai parameter kegunungapian. Ketika data menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan, PVMBG dapat mengubah tingkat aktivitas serta mengeluarkan rekomendasi keselamatan.
Masyarakat pun tidak seharusnya menilai kondisi gunung hanya berdasarkan kepulan asap atau video yang beredar di media sosial. Informasi resmi hasil pengamatan memiliki dasar data yang lebih lengkap.
Enam Gunung Sempat Erupsi dalam Waktu Berdekatan
Perhatian terhadap gunung api Indonesia meningkat setelah enam gunung api tercatat mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Gunung tersebut adalah Sinabung, Semeru, Ili Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Anak Krakatau.
Fenomena tersebut sempat menimbulkan pertanyaan di masyarakat mengenai kemungkinan adanya satu pemicu yang membuat sejumlah gunung mengalami erupsi hampir bersamaan.
Namun, Kepala PVMBG Rita Susilawati menegaskan bahwa waktu erupsi yang berdekatan tidak otomatis menunjukkan hubungan antara satu gunung dengan gunung lainnya.
βBersamaan waktunya, belum berarti berhubungan prosesnya,β kata Rita seperti di kutip RRI pada 2 September 2026.
Menurut penjelasan PVMBG, setiap gunung api memiliki sistem magmatik dan karakter aktivitas masing-masing. Karena itu, erupsi yang terjadi pada waktu hampir bersamaan tidak dapat langsung disimpulkan sebagai akibat satu proses geologi yang sama.
Penjelasan tersebut penting agar masyarakat tidak menghubungkan setiap aktivitas vulkanik secara otomatis. Data pemantauan tetap menjadi dasar utama untuk menentukan penyebab maupun perkembangan aktivitas gunung.
Gunung Sinabung Naik Menjadi Level III Siaga
Salah satu perkembangan penting terjadi di Sumatra Utara. Badan Geologi menaikkan status Gunung Sinabung di Kabupaten Karo dari **Level II Waspada menjadi Level III Siaga** pada 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB.
Keputusan tersebut diambil setelah hasil pengamatan visual dan instrumental menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Badan Geologi juga mencatat adanya erupsi dengan kolom abu dan aktivitas kegempaan yang terekam pada seismogram.
Dalam kondisi Level III, masyarakat dan pengunjung diminta tidak melakukan aktivitas pada wilayah yang telah ditentukan sebagai kawasan berbahaya. Badan Geologi juga menetapkan rekomendasi keselamatan berdasarkan radius dan sektor yang berpotensi terdampak.
Perubahan status Sinabung menunjukkan bahwa angka 127 gunung api aktif harus dibaca bersama data aktivitas masing-masing gunung.
Artinya, jumlah gunung api aktif merupakan gambaran umum kondisi kegunungapian Indonesia, sedangkan status Level I hingga Level IV menggambarkan perkembangan aktivitas pada gunung tertentu.
Anak Krakatau Masih Berstatus Level III
Perkembangan lain datang dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Badan Geologi pada 7 September 2026 melaporkan aktivitas erupsi masih berlangsung dan status gunung tersebut tetap Level III atau Siaga.
Dalam laporan evaluasi tanggal 7 September, Badan Geologi mencatat adanya erupsi strombolian. Pada periode pengamatan 6β7 September juga terekam beberapa jenis gempa vulkanik, termasuk gempa erupsi, gempa hembusan, low frequency, hybrid atau fase banyak, tremor menerus, serta gempa vulkanik dangkal.
Badan Geologi meminta masyarakat dan pengunjung tidak memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Masyarakat juga di minta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lontaran batu pijar, lava, awan panas dan hujan abu lebat.
Aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat sejak Juli 2026. Dalam laporan khusus 5 September, Badan Geologi menjelaskan bahwa seri erupsi tipe Strombolian terus berlangsung dan pada 5 September terjadi erupsi menerus yang di sertai suara gemuruh serta fenomena yang menyerupai lava fountain.
Mengapa Jumlah Gunung Api Aktif Indonesia Penting?
Jumlah 127 gunung api aktif Indonesia bukan sekadar angka statistik. Data tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan pemantauan dan mitigasi bencana vulkanik di Indonesia.
Sebaran gunung api yang luas membuat masyarakat di berbagai daerah harus hidup berdampingan dengan potensi aktivitas vulkanik. Namun, tingkat ancaman tidak sama pada setiap gunung.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan status gunung api yang berada di wilayah masing-masing. Informasi tentang gunung yang berstatus Normal tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan kondisi gunung lain yang sedang Waspada atau Siaga.
Perbedaan karakter tersebut juga menjadi alasan PVMBG meminta masyarakat tidak panik ketika beberapa gunung mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan.
Selain itu, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya rujukan. Video atau unggahan dari lapangan dapat membantu menggambarkan kondisi tertentu, tetapi belum tentu memberikan informasi lengkap mengenai waktu, lokasi, perkembangan aktivitas, maupun tingkat bahayanya.
Perkembangan Gunung Api Harus Mengacu pada Data Terbaru
Status gunung api dapat berubah sesuai hasil pemantauan. Karena itu, data mengenai jumlah gunung api aktif harus dibedakan dari informasi status aktivitas yang bersifat dinamis.
Badan Geologi secara berkala menerbitkan laporan khusus ketika terjadi perubahan penting pada gunung api. Salah satu contohnya adalah laporan kenaikan status Sinabung dan evaluasi terbaru aktivitas Anak Krakatau.
Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar kawasan gunung api juga perlu memahami rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan PVMBG. Ketika status berubah, rekomendasi wilayah yang harus dihindari juga dapat berubah.
Pada akhirnya, angka 127 menunjukkan luasnya potensi vulkanik Indonesia, sedangkan data pemantauan menjadi dasar untuk memahami kondisi setiap gunung secara lebih spesifik.
Dengan 69 gunung yang di pantau secara efektif melalui Pos Pengamatan Gunung Api, sistem pemantauan terus menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bagi masyarakat.
Sementara itu, perkembangan terbaru seperti aktivitas Anak Krakatau dan peningkatan status Sinabung menjadi pengingat bahwa informasi kegunungapian harus selalu mengikuti laporan resmi terbaru.
Sumber:
- Badan Geologi Kementerian ESDM β sumber primer untuk data jumlah gunung api dan klasifikasi. Badan Geologi ESDM β data 127 gunung api aktif
- Badan Geologi β perkembangan Anak Krakatau 7 September 2026 β sumber primer untuk status dan aktivitas terbaru Anak Krakatau. Laporan resmi Anak Krakatau 7 September 2026
- Badan Geologi β kenaikan status Sinabung β sumber primer untuk perubahan status Gunung Sinabung. Laporan resmi kenaikan status Sinabung
- RRI β pernyataan Kepala PVMBG β sumber sekunder untuk konteks enam gunung yang erupsi berdekatan. Pernyataan PVMBG soal erupsi sejumlah gunung api
