Dapur MBG di Kepahiang Belum Ditutup, Milik Orang Kuat? Bikin 16 Murid dan Guru Keracunan

NGENELO.NET, KEPAHIANG – Setelah diduga bikin 16 orang keracunan terdiri dari murid, guru hingga penjaga SDN 18 Taba Tebelet Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) tak kunjung ditutup.

Terpantau, hingga Jumat 5 Juni 2026 petang masih ada aktivitas kegiatan di dalam areal dapur MBG Taba Tebelet. Meskipun demikian, dari infromasi terhimpun kegiatan operasi dapur MBG Taba Tebelet sudah dihentikan sementara hingga menunggu hasil laboratorium keluar.

Diketahui, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada tak jauh dari kawasan perubahan Kroya Desa Taba Tebelet Kecamatan Kepahiang memiliki nomor kode: 17.08.04.2014.05. SPPG ini dikelola oleh Yayasan Putri Bungsu Asia, diduga milik salah satu orang kuat di Provinsi Bengkulu.

Informasi diperoleh, pemiliknya merupakan berlatar belakang anggota kepolisian yang saat ini diketahui sudah tak berdinas alias sudah memasuki masa purnatugas. Yang bersangkutan, sempat menduduki jabatan tertinggi kepolisian di Polres Kepahiang hingga menjabat jabatan direkrorat di Polda Bengkulu.

Terkait aktivitas SPPG Taba Tebelet, saat di konfirmasi Kapolres Kepahiang AKBP Yuriko Fernanda, SH, SIK, MH menjelaskan, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium sebelum mengambil langkah lebih lanjut.  “Kami masih menunggu hasil lab,” kata Kapolres.

Jika kemudian, dari hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya keterkaitan antara makanan MBG dengan kasus yang di alami para murid SD. Maka, tak menutup kemungkinan akan dilakukan penghentian sementara distribusi makanan, hingga penyegelan fasilitas pengolahan makanan untuk kepentingan evaluasi dan penyelidikan lebih lanjut.

Cek Sampel Menu MBG

Disampaikan pula, sejumlah sampel makanan MBG yang dikonsumsi para korban telah diamankan dan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan. Pengujian tersebut bertujuan memastikan apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain yang menjadi penyebab belasan korban mengalami gejala seperti mual, muntah, sakit perut, hingga pusing.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kepahiang, Wisnu menjelaskan, sampel yang diperiksa tidak hanya berasal dari makanan yang dikonsumsi korban, tetapi juga sisa muntahan korban yang diambil saat proses perawatan.

Beberapa menu MBG yang di jadikan sampel antara lain nasi, pergedel tahu. Termasuk juga sambal telur, buah salak, serta tumis jagung dan kol. Selain itu, petugas juga mengamankan sisa makanan dalam kemasan plastik.

Lalu, air minum isi ulang yang di gunakan saat penyajian. Serta dua botol sampel air sumur dari dapur SPPG Taba Tebelet.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menentukan langkah lanjutan. Termasuk evaluasi terhadap standar kebersihan, sanitasi, hingga kelayakan operasional dapur penyedia makanan MBG.

Sebelumnya, 16 korban mengalami keracunan usai menyantap menu makanan MBG, Kamis 5 Juni 2026. Korban terdiri dari 14 murid yakni, Olif Aprianta (9), Firza (9), Haura (9), Keyla (9). Lalu,  Zahwa (9), Lala (9), Refa (8), Sasuke (12), Fikri (9), Bilqis (11), Laras (11). Sandi Praja, Rafi Rizki Ramadan (9) dan Fazril Adiwangsa.

Serta, seorang guru Musiana (56) dan seorang penjaga sekolah, Nova (21). Para korban sempat mendapatkan perawatan intensif di Puskesmas Kelobak, sebelum akhirnya di perkenankan pulang.