Demo 27 Agustus Berujung Maut: 322 Orang Ditangkap, 48 Tersangka dan Kasus Bambang Diselidiki

Demo 27 Agustus berujung kerusuhan. 322 orang di tangkap, 48 jadi tersangka, sementara kematian Bambang masih diselidiki.

Ringkasan Berita
  • Demo 27 Agustus di Jakarta berujung kerusuhan dan meluas dari kawasan DPR/MPR menuju Pejompongan serta Palmerah.
  • Polisi menyatakan telah mengamankan 322 orang dan menetapkan 48 orang sebagai tersangka terkait dugaan perusakan, penganiayaan dan kepemilikan senjata tajam.
  • Bambang Setiyawan (59) meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan di Pejompongan. Polisi masih mengumpulkan fakta hukum terkait kasus tersebut.
  • GRIB Jaya membantah terlibat secara institusional, sementara kuasa hukumnya membenarkan sosok Hercules dalam video yang beredar.

NGENELO.NET, JAKARTA, – Demo 27 Agustus 2026 di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, berujung kerusuhan yang meluas ke sejumlah kawasan setelah massa bergerak dari sekitar Senayan menuju Pejompongan hingga Palmerah.

Melansir laman BBC, Polisi telah mengamankan setidaknya 322 orang dan menetapkan 48 orang sebagai tersangka. Pada saat yang sama, polisi masih menyelidiki kematian Bambang Setiyawan (59), warga Pejompongan yang di duga menjadi korban pengeroyokan.

Selain korban meninggal, warga bernama Faturohman (18) juga mengaku mengalami pemukulan saat kericuhan. Sementara itu, muncul pula perdebatan mengenai dugaan keterlibatan kelompok tertentu setelah video Ketua DPP GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, beredar di media sosial.

Karena itu, rangkaian peristiwa setelah Demo kini tidak hanya menyangkut penanganan massa, tetapi juga penyelidikan dugaan kekerasan, kerusakan fasilitas publik, serta pertanggungjawaban hukum terhadap pihak yang terbukti terlibat.

Demo 27 Agustus Picu Penangkapan 322 Orang

Polda Metro Jaya menyatakan telah mengamankan 322 orang setelah kericuhan yang terjadi pasca-Demo 27 Agustus. Dari jumlah tersebut, polisi mencatat 162 orang dewasa berusia sekitar 18 hingga 40 tahun dan 160 anak berusia 12 hingga 19 tahun.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan kelompok yang diamankan di tangani dalam proses hukum sesuai dugaan peran masing-masing.

“Dari kelompok usia, 162 orang dewasa berusia sekitar 18 sampai dengan 40 tahun yang ditangani oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya, serta 160 anak berusia rentang 12 sampai dengan 19 tahun,” ujar Budi dalam konferensi pers, Jumat (28/8/2026).

Selanjutnya, Polda Metro Jaya menetapkan 48 orang sebagai tersangka. Sebanyak 45 orang diduga terlibat dalam perusakan fasilitas umum dan penganiayaan. Sementara itu, tiga orang lainnya menjadi tersangka karena kedapatan membawa senjata tajam.

Polisi juga menyita sejumlah barang yang di sebut berkaitan dengan kericuhan, antara lain golok, gunting, asahan pisau, ketapel, 19 mata panah, rantai besi, tongkat bambu dan lembaran PVC.

Namun, proses hukum tersebut masih terus berkembang. Polisi juga melakukan pemeriksaan untuk mengungkap peran masing-masing orang yang di amankan.

Selain itu, jumlah anak yang ikut di amankan menjadi perhatian tersendiri. Dari data kepolisian, 141 anak kemudian telah di kembalikan kepada orang tua masing-masing.

Demo 27 Agustus Berujung Kematian Bambang Setiyawan

Di tengah penanganan ratusan orang, kasus kematian Bambang Setiyawan menjadi salah satu perkara paling serius setelah Demo 27 Agustus.

Bambang, warga kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, di duga menjadi korban pengeroyokan di Pejompongan pada Kamis (27/8) malam. Polisi masih menyelidiki rangkaian kejadian yang menyebabkan korban ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin mengatakan penyidik masih mengumpulkan fakta di lapangan.

“Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan fakta-fakta hukum yang ada di lapangan yang kami peroleh,” kata Iman.

Sebelumnya, polisi menerima laporan mengenai adanya korban pengeroyokan. Akan tetapi, petugas tidak dapat langsung melakukan evakuasi karena kondisi lokasi belum kondusif.

Setelah situasi lebih aman, Bidokes Polda Metro Jaya mengevakuasi seorang laki-laki dalam kondisi pingsan. Bambang kemudian di bawa ke Rumah Sakit Mintohardjo. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Jenazah selanjutnya di bawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi dan visum. Karena itu, penyebab serta rangkaian lengkap yang menyebabkan Bambang meninggal masih menjadi bagian dari penyelidikan kepolisian.

Keluarga Bambang sebelumnya menceritakan bahwa korban masih berjualan cermin pada Kamis sore. Istrinya, Sudarsi, meminta Bambang menutup dagangan karena melihat massa mulai ramai.

Setelah itu, Bambang sempat mengantar seseorang yang sakit ke Rumah Sakit Pelni bersama anaknya. Ia kemudian kembali ke rumah sekitar pukul 21.00 hingga 21.30 WIB.

Namun, Bambang kemudian kembali keluar menuju kawasan tokonya. Setelah itu, ia tidak kunjung pulang.

Keluarga akhirnya mengetahui kondisi Bambang melalui informasi yang berkembang dan video yang beredar di media sosial. Fakta mengenai siapa yang melakukan kekerasan terhadap Bambang tetap menunggu hasil penyelidikan resmi.

Demo 27 Agustus Juga Sisakan Korban Luka

Selain Bambang, Faturohman (18), warga setempat, mengaku menjadi korban pemukulan saat kerusuhan Demo 27 Agustus berlangsung di Pejompongan.

Faturohman mengalami luka pada bagian wajah dan kepala. Setelah mendapat kunjungan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Jumat (28/8), keluarga membawa Fatur ke RSUD Tarakan untuk mendapatkan perawatan sekaligus menjalani visum.

Ibu Fatur, Rina, mengatakan putranya perlu mendapatkan pemeriksaan medis setelah mengalami kekerasan.

“Sekarang mau dibawa ke RS Tarakan, tadi sudah ketemu Pak Gubernur, diminta dirawat saja di RS. Sekalian mau bikin visum,” ujar Rina.

Dengan demikian, penyelidikan pascakerusuhan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fasilitas umum. Aparat juga perlu mengungkap dugaan kekerasan terhadap warga yang berada di sekitar lokasi.

Selain itu, hasil visum dan keterangan saksi dapat menjadi bagian penting dalam proses penyidikan.

Demo 27 Agustus dan Munculnya Nama Hercules

Perkembangan lain muncul setelah video yang memperlihatkan Ketua DPP GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, beredar di media sosial.

Kuasa hukum GRIB Jaya, Wilson Colling, membenarkan bahwa sosok dalam video tersebut merupakan Hercules. Namun, ia membantah GRIB Jaya terlibat dalam kerusuhan secara institusional.

“Saya mengatakan bahwa GRIB tidak terlibat di dalam kerusuhan tersebut. Secara institusi, kelembagaan ya, kami orang hukum pasti mengetahui jika ada pergerakan-pergerakan seperti itu,” kata Wilson Colling.

Dalam video tersebut, Hercules terlihat turun dari mobil dan menyerukan “pulang” kepada orang-orang di sekitar lokasi. Kuasa hukum GRIB Jaya menyatakan seruan tersebut merupakan imbauan agar massa meninggalkan lokasi karena kondisi sudah tidak kondusif.

Namun, hingga perkembangan yang tersedia, belum ada kesimpulan bahwa kemunculan Hercules dalam video tersebut membuktikan keterlibatan GRIB Jaya secara institusional dalam kerusuhan.

Karena itu, informasi mengenai keterlibatan organisasi maupun individu tertentu perlu di bedakan dari fakta yang sudah di konfirmasi aparat. Dugaan yang beredar di media sosial tidak otomatis menjadi kesimpulan hukum.

Bermula dari Aksi di DPR

Sebelum kerusuhan terjadi, Demo 27 Agustus bermula dari aksi ribuan orang di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta.

Salah satu tuntutan utama massa berkaitan dengan pengesahan RUU Perampasan Aset. Selain itu, sebagian peserta membawa isu lain, seperti evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, penanganan gempa di Nusa Tenggara Timur dan persoalan kebakaran hutan.

Menjelang malam, sebagian massa masih bertahan di depan kompleks parlemen. Situasi kemudian memanas setelah terjadi saling dorong antara massa dan aparat.

Sejumlah orang di laporkan melempar batu, kayu dan botol ke arah kompleks parlemen. Polisi kemudian berupaya membubarkan massa.

Massa yang bergerak meninggalkan kawasan DPR kemudian menuju sejumlah titik di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Pejompongan serta Palmerah menjadi lokasi yang ikut terdampak.

Di sejumlah titik, fasilitas publik mengalami kerusakan. Kamera CCTV, pos polisi dan sejumlah fasilitas lain juga di laporkan menjadi sasaran.

Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi rangkaian kerusuhan yang berlangsung hingga malam.

Buka Persoalan Baru soal Anak dan Ruang Sipil

Jumlah anak yang ikut di amankan setelah Demo 27 Agustus menjadi perhatian karena mencapai 160 orang berdasarkan data awal kepolisian.

Di sisi lain, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur menilai terdapat pola yang menurutnya memiliki kemiripan dengan temuan Komisi Pencari Fakta terkait aksi Agustus 2025.

Menurut Isnur, rangkaian aksi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kerusuhan, tetapi juga menyentuh persoalan penangkapan massal, dugaan kriminalisasi serta ruang sipil.

“Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, pembakaran, dan penjarahan, tetapi juga memicu gelombang penangkapan massal, kriminalisasi aktivis, serta penyempitan ruang sipil yang belum sepenuhnya di jawab oleh negara,” kata Isnur kepada awak media.

Namun, penilaian tersebut merupakan pandangan dari pihak YLBHI. Karena itu, pembaca perlu membedakannya dari fakta hukum yang sedang di selidiki aparat.

Pada akhirnya, perkembangan kasus Demo 27 Agustus masih bergerak. Polisi harus mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas perusakan, kekerasan dan kematian Bambang. Pada saat yang sama, proses hukum terhadap 48 tersangka juga perlu berjalan berdasarkan alat bukti dan peran masing-masing.

Kejelasan proses penyidikan menjadi penting agar rangkaian kerusuhan tidak berhenti pada penangkapan, tetapi juga menghasilkan pertanggungjawaban hukum yang transparan.

Pertanyaan Seputar Demo 27 Agustus

Apa yang terjadi dalam Demo 27 Agustus?
Demo 27 Agustus di depan Gedung DPR/MPR RI berujung kericuhan yang kemudian meluas ke sejumlah wilayah Jakarta, termasuk Pejompongan dan Palmerah. Kerusuhan menyebabkan kerusakan fasilitas umum dan korban warga.
Berapa orang yang di tangkap setelah Demo 27 Agustus?
Polisi menyatakan telah mengamankan 322 orang setelah rangkaian kerusuhan pasca-Demo 27 Agustus. Dari jumlah tersebut, 48 orang di tetapkan sebagai tersangka.
Siapa Bambang Setiyawan dalam kasus Demo 27 Agustus?
Bambang Setiyawan merupakan warga berusia 59 tahun yang tinggal di kawasan Bendungan Hilir dan di duga menjadi korban pengeroyokan di Pejompongan saat kerusuhan berlangsung. Polisi masih menyelidiki kasus kematiannya.