Tapir Mesuji viral di Register 45. BKSDA Bengkulu mengecek habitat dan tutupan lahan demi menjaga kelestarian satwa.
- Tapir Mesuji viral setelah muncul di Jalan Lintas Register 45, Kabupaten Mesuji.
- BKSDA Bengkulu mengecek habitat serta kondisi tutupan lahan di sekitar lokasi kemunculan tapir.
- Register 45 diketahui masih menjadi habitat alami tapir sehingga perjumpaan dengan manusia masih mungkin terjadi.
- Masyarakat diimbau tidak mengganggu satwa liar dan segera melapor kepada petugas apabila kembali melihat tapir.
MESUJI, NGENELO.NET, – Tapir Mesuji menjadi perhatian publik setelah seekor tapir (Tapirus indicus) terekam berjalan santai di Jalan Lintas Register 45, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung. Video kemunculan satwa liar yang di lindungi tersebut langsung viral di media sosial dan memicu rasa penasaran masyarakat.
Menyikapi kejadian itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu segera melakukan pengecekan habitat, termasuk kondisi tutupan lahan di sekitar lokasi kemunculan satwa.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan apakah kawasan hutan di sekitar Register 45 masih mampu mendukung kehidupan tapir sekaligus mengetahui faktor yang menyebabkan satwa itu muncul hingga ke badan jalan.
Melansir laman media lokal, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu, Itno Itoyo, mengatakan pihaknya telah menerima laporan masyarakat dan langsung menindaklanjuti dengan melakukan penelusuran lapangan.
“Kami saat ini sedang mengumpulkan data dan informasi lanjutan. Selain itu, kami juga memastikan kondisi habitat tapir, termasuk mengecek tutupan lahan di sekitar lokasi kemunculan satwa,” ujarnya.
Menurutnya, proses identifikasi tidak hanya berfokus pada lokasi kemunculan tapir, tetapi juga membandingkan kondisi lingkungan saat ini dengan data sebelumnya agar dapat di ketahui perubahan yang terjadi.
Selain itu, tim lapangan akan memetakan kondisi vegetasi, jalur lintasan satwa, hingga kemungkinan adanya perubahan fungsi lahan yang dapat memengaruhi pergerakan tapir di kawasan tersebut.
Tapir Mesuji Pernah Muncul Sebelumnya, BKSDA Bandingkan Data Lama
Fenomena Tapir Mesuji ternyata bukan kejadian pertama. Berdasarkan catatan BKSDA Bengkulu, kemunculan satwa tersebut di kawasan Register 45 pernah terjadi pada periode 2022 hingga 2023.
Karena itu, petugas tidak hanya mengumpulkan laporan terbaru, melainkan juga membandingkan data historis mengenai keberadaan tapir di wilayah tersebut.
Dengan cara itu, BKSDA dapat mengetahui apakah jalur lintasan tapir masih sama atau justru mengalami perubahan akibat dinamika kondisi hutan.
Kemudian, hasil analisis tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah konservasi berikutnya.
Perubahan tutupan lahan menjadi salah satu aspek yang paling di perhatikan. Pasalnya, semakin sempit kawasan hutan atau koridor satwa, semakin besar kemungkinan tapir keluar menuju jalan raya maupun area permukiman.
Selain itu, keberadaan jalan yang membelah kawasan hutan juga dapat meningkatkan potensi perjumpaan antara manusia dengan satwa liar.
Oleh karena itu, pemetaan habitat menjadi bagian penting agar kebijakan konservasi dapat dilakukan berdasarkan kondisi lapangan yang sebenarnya.
Tapir sendiri di kenal sebagai satwa nokturnal yang lebih aktif pada malam hingga dini hari. Namun, gangguan terhadap habitat dapat menyebabkan perubahan pola aktivitas sehingga satwa berpotensi terlihat pada siang ataupun sore hari.
Di sisi lain, keberadaan sumber air, vegetasi pakan, dan kawasan hutan yang saling terhubung menjadi faktor penting bagi kelangsungan hidup tapir di alam liar.
Tapir Mesuji Tunjukkan Lanskap Hutan Register 45 Masih Menjadi Habitat Satwa
Sementara itu, melansir laman antara, Kepala Balai KSDA Bengkulu, Agung Nugroho, menjelaskan bahwa kemunculan Tapir Mesuji justru menjadi indikator masih adanya populasi satwa tersebut di lanskap hutan Mesuji.
Menurutnya, Jalan Lintas Timur Register 45 memang berbatasan langsung dengan habitat alami tapir sehingga peluang perjumpaan antara satwa dan manusia tetap ada.
Ia menegaskan bahwa kemunculan tapir bukan berarti satwa tersebut sengaja mencari permukiman, melainkan sedang melintasi koridor alaminya.
Karena itu, masyarakat di minta tidak panik apabila melihat tapir berada di sekitar jalan.
Sebaliknya, pengendara di sarankan memperlambat laju kendaraan dan memberikan ruang agar satwa dapat melintas dengan aman.
Agung juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengejar, menangkap, melukai, maupun memberi makan tapir.
Menurutnya, tindakan tersebut justru dapat memicu stres sehingga satwa menjadi defensif dan berpotensi membahayakan manusia.
“Menjaga kelestarian habitat dan konektivitas koridor satwa menjadi bagian penting dalam upaya konservasi agar satwa dapat bergerak dan berkembang biak secara alami tanpa memicu konflik dengan manusia,” katanya.
Selain itu, masyarakat di imbau segera melaporkan kepada petugas apabila kembali menemukan tapir atau satwa liar lain berada di sekitar jalan maupun kawasan permukiman.
Tapir Mesuji Viral, Begini Fakta Satwa Dilindungi yang Kini Terancam Kehilangan Habitat
Viralnya Tapir Mesuji juga menjadi pengingat penting mengenai kondisi konservasi satwa liar di Indonesia.
Tapir Asia (Tapirus indicus) merupakan satu-satunya spesies tapir yang hidup di Asia dan berstatus satwa di lindungi.
Populasinya terus menghadapi tekanan akibat hilangnya habitat, fragmentasi hutan, hingga aktivitas manusia yang semakin mendekati kawasan konservasi.
Selain itu, pembangunan infrastruktur yang memotong jalur jelajah satwa juga meningkatkan risiko konflik dengan manusia.
Tapir memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem karena membantu penyebaran biji berbagai jenis tumbuhan hutan.
Dengan demikian, keberadaan tapir secara tidak langsung mendukung regenerasi hutan alami.
Fenomena kemunculan tapir di Register 45 menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan hutan.
Apabila habitat tetap terjaga, satwa akan lebih memilih berada di dalam kawasan hutan di banding keluar menuju jalan raya.
Sebaliknya, apabila tekanan terhadap habitat terus meningkat, peluang konflik antara manusia dan satwa liar di perkirakan akan semakin besar.
Karena itu, sinergi pemerintah, masyarakat, perusahaan, hingga organisasi lingkungan sangat di butuhkan untuk memastikan koridor satwa tetap terhubung.
Selain menjaga kelestarian tapir, upaya tersebut juga bermanfaat bagi berbagai satwa liar lain yang hidup di bentang alam Register 45.
Ke depan, hasil pengecekan BKSDA mengenai tutupan lahan dan kondisi habitat akan menjadi dasar penyusunan langkah konservasi yang lebih efektif sehingga keberadaan tapir di Mesuji tetap terjaga tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.
