Antrean Solar di Kepahiang mengular di dua SPBU. Sopir truk rela nginap akibat lonjakan kendaraan dari luar daerah.
- Antrean Solar di Kepahiang terjadi di SPBU Kelobak dan SPBU Pekalongan akibat lonjakan kendaraan dalam sepekan terakhir.
- Mayoritas kendaraan yang mengantre berasal dari luar Kabupaten Kepahiang dan diduga terdampak pembatasan pembelian solar subsidi di daerah lain.
- Pasokan solar subsidi tetap normal sekitar 16 ton per hari, namun belum mampu mengimbangi tingginya permintaan.
- SPBU bersama Satlantas Polres Kepahiang mengatur antrean agar tetap tertib dan tidak mengganggu arus lalu lintas.
KEPAHIANG, NGENELO.NET, – Antrean Solar di Kepahiang menjadi perhatian masyarakat setelah ratusan kendaraan angkutan barang memadati dua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, dalam sepekan terakhir. Puluhan hingga ratusan truk terlihat mengular di bahu jalan menuju SPBU Kelobak dan SPBU Pekalongan. Bahkan, sebagian sopir mengaku rela menginap di dalam kabin kendaraan demi mempertahankan nomor antrean agar tetap memperoleh solar subsidi.
Panjangnya antrean tidak hanya terjadi pada jam-jam tertentu, tetapi berlangsung hampir sepanjang hari. Kondisi tersebut membuat kawasan sekitar SPBU jauh lebih padat dibandingkan hari biasa. Meski demikian, arus lalu lintas masih dapat dilalui karena petugas terus mengatur posisi kendaraan agar tidak sepenuhnya menutup badan jalan.
Fenomena ini menjadi sorotan karena terjadi secara terus-menerus selama beberapa hari terakhir. Selain mengganggu aktivitas para pengemudi, antrean panjang juga menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab meningkatnya jumlah kendaraan yang mengisi BBM bersubsidi di Kabupaten Kepahiang.
Salah seorang sopir truk, Wawan, mengaku telah menunggu lebih dari satu hari untuk mendapatkan giliran mengisi solar subsidi.
“Ini sudah nginap malam tadi. Panjang sekali antreannya,” ujar Wawan, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, antrean yang begitu panjang membuat banyak pengemudi memilih tetap berada di lokasi. Mereka membawa bekal makanan, beristirahat di dalam kabin, hingga bergantian menjaga kendaraan agar tidak kehilangan posisi antrean.
Bagi para sopir angkutan barang, solar subsidi menjadi kebutuhan utama untuk menekan biaya operasional. Oleh karena itu, mereka memilih bertahan meskipun harus menunggu berjam-jam bahkan lebih dari satu malam.
Selain truk pengangkut hasil perkebunan, terlihat pula kendaraan logistik, fuso, dump truck, hingga kendaraan diesel lainnya yang ikut mengantre. Panjang antrean bahkan mencapai ratusan meter pada waktu-waktu tertentu.
Antrean Solar di Kepahiang Didominasi Kendaraan dari Luar Daerah
Sementara itu, melansir laman kompas, pihak SPBU Kelobak membenarkan adanya peningkatan jumlah kendaraan yang mengisi solar subsidi dalam beberapa hari terakhir. Pengawas SPBU Kelobak, Fuji, mengatakan antrean yang terjadi bukan di sebabkan oleh berkurangnya pasokan BBM, melainkan meningkatnya jumlah kendaraan yang datang secara bersamaan. “Iya, sudah beberapa hari ini antreannya cukup panjang,” ungkapnya.
Menurutnya, sebagian besar kendaraan yang mengantre justru berasal dari luar Kabupaten Kepahiang. Hal itu terlihat dari pelat nomor kendaraan yang di dominasi kendaraan luar daerah. “Banyak yang berasal dari luar Kabupaten Kepahiang,” ujarnya.
Fuji menduga meningkatnya kendaraan dari luar daerah berkaitan dengan adanya pembatasan pembelian solar subsidi di sejumlah wilayah lain. Akibat kebijakan tersebut, banyak sopir memilih mengisi BBM di Kabupaten Kepahiang yang masih melayani penyaluran sesuai aturan yang berlaku.
Fenomena perpindahan lokasi pengisian BBM ini membuat dua SPBU di Kabupaten Kepahiang menerima beban pelayanan yang jauh lebih besar di bandingkan biasanya. Padahal, Kabupaten Kepahiang hanya memiliki dua SPBU yang menyalurkan solar subsidi, yakni SPBU Kelobak dan SPBU Pekalongan.
Dengan jumlah SPBU yang terbatas, lonjakan kendaraan dari luar daerah otomatis menyebabkan antrean semakin panjang. Selain itu, waktu tunggu setiap kendaraan juga bertambah karena proses pengisian harus dilakukan secara bergantian sesuai urutan antrean.
Di sisi lain, posisi Kabupaten Kepahiang yang berada di jalur penghubung antarkabupaten juga membuat banyak kendaraan angkutan melintas setiap hari. Ketika sebagian wilayah menerapkan pembatasan, Kepahiang menjadi salah satu alternatif bagi pengemudi untuk memperoleh solar subsidi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa distribusi solar subsidi di suatu daerah dapat dipengaruhi oleh kebijakan di wilayah lain. Akibatnya, daerah yang semula tidak mengalami kepadatan justru harus menghadapi lonjakan permintaan dalam waktu singkat.
Antrean Solar di Kepahiang Terjadi Meski Pasokan BBM Normal
Di tengah panjangnya antrean, pihak SPBU memastikan stok solar subsidi masih tersedia dan tidak mengalami kekurangan. Setiap hari, SPBU Kelobak menerima distribusi sekitar 16 ton solar subsidi sesuai kuota yang telah ditetapkan.
Artinya, pasokan BBM tidak mengalami gangguan. Namun, jumlah tersebut belum mampu mengimbangi peningkatan permintaan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Fuji, persoalan utama saat ini bukan berada pada distribusi BBM, melainkan melonjaknya jumlah kendaraan yang datang untuk mengisi solar subsidi.
Setiap kendaraan memerlukan waktu beberapa menit untuk proses pengisian. Ketika jumlah kendaraan meningkat hingga berkali-kali lipat di bandingkan hari biasa, antrean otomatis semakin panjang.
Selain itu, sebagian besar kendaraan yang datang merupakan truk bermuatan besar dengan kapasitas tangki yang lebih banyak di bandingkan kendaraan biasa. Kondisi tersebut membuat waktu pelayanan setiap kendaraan menjadi lebih lama.
Akibatnya, para sopir harus menunggu berjam-jam. Tidak sedikit yang memilih tidur di dalam kabin truk agar tetap berada di posisi antrean.
Bagi pengusaha angkutan, penggunaan solar subsidi memiliki pengaruh besar terhadap biaya operasional. Selisih harga antara solar subsidi dan nonsubsidi membuat banyak perusahaan tetap berupaya memperoleh BBM subsidi sesuai ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, apabila kendaraan harus menggunakan solar nonsubsidi secara terus-menerus, biaya distribusi barang berpotensi meningkat. Pada akhirnya, kenaikan biaya operasional tersebut dapat berdampak pada harga barang yang dikirim ke berbagai daerah.
Karena itu, antrean panjang di SPBU bukan hanya menjadi persoalan para sopir, tetapi juga berkaitan dengan kelancaran distribusi logistik yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat.
Antrean Diantisipasi SPBU dan Polisi agar Tidak Ganggu Lalu Lintas
Panjangnya Antrean tidak hanya berdampak pada para sopir truk, tetapi juga berpotensi mengganggu arus lalu lintas di sekitar SPBU. Oleh sebab itu, pengelola SPBU bersama aparat kepolisian mengambil sejumlah langkah untuk memastikan antrean tetap tertib dan tidak membahayakan pengguna jalan.
Pengawas SPBU Kelobak, Fuji, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kepahiang sejak antrean mulai memanjang beberapa hari terakhir. Koordinasi tersebut dilakukan agar pengaturan kendaraan dapat berjalan lebih efektif, terutama pada jam-jam sibuk ketika jumlah truk yang datang terus bertambah.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Satlantas Polres Kepahiang mengenai antrean kendaraan ini,” katanya.
Selain melibatkan kepolisian, pihak SPBU juga menempatkan sejumlah karyawan di area pengisian dan jalur antrean. Mereka bertugas mengarahkan kendaraan agar tetap berada di jalur yang telah di tentukan, sekaligus mengingatkan sopir supaya tidak memarkir truk terlalu jauh hingga menutup badan jalan.
Langkah tersebut di nilai penting karena sebagian kendaraan berukuran besar membutuhkan ruang parkir yang lebih panjang di bandingkan kendaraan biasa. Tanpa pengaturan yang baik, antrean berpotensi menyebabkan penyempitan jalan dan meningkatkan risiko kemacetan maupun kecelakaan lalu lintas.
Fuji berharap seluruh pengemudi dapat mematuhi arahan petugas sehingga proses pengisian BBM berlangsung tertib.
“Kami berharap para sopir bisa menjaga ketertiban. Dengan begitu antrean tetap berjalan dan pengguna jalan lain juga tetap bisa melintas dengan aman,” ujarnya.
Sementara itu, masyarakat yang melintas di sekitar SPBU Kelobak maupun SPBU Pekalongan di imbau meningkatkan kewaspadaan. Pengendara di minta mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan memperhatikan kendaraan berat yang keluar masuk area SPBU.
Berpotensi Pengaruhi Distribusi Barang dan Ekonomi Daerah
Selain menjadi persoalan di tingkat SPBU, Antrean Solar di Kepahiang juga memiliki dampak yang lebih luas terhadap sektor transportasi dan distribusi barang. Kendaraan angkutan yang tertahan selama berjam-jam bahkan hingga lebih dari satu hari tentu mengalami keterlambatan dalam mengantarkan muatan ke tujuan.
Kondisi ini dapat memengaruhi distribusi berbagai komoditas, mulai dari hasil pertanian, hasil perkebunan, bahan bangunan, hingga kebutuhan pokok masyarakat. Apabila keterlambatan terus terjadi, biaya operasional perusahaan angkutan juga akan meningkat karena waktu kerja sopir menjadi lebih panjang dan produktivitas kendaraan menurun.
Selain itu, perusahaan logistik harus menyesuaikan jadwal pengiriman agar tidak mengganggu rantai pasok. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menambah biaya distribusi yang akhirnya dapat memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.
Di sisi lain, masyarakat berharap antrean panjang ini segera terurai sehingga aktivitas distribusi barang kembali normal. Para sopir pun menginginkan solusi yang mampu memberikan kepastian waktu pengisian BBM tanpa harus menunggu hingga berhari-hari.
Hingga Rabu (1/7/2026), aktivitas pengisian solar subsidi di SPBU Kelobak dan SPBU Pekalongan masih berlangsung normal. Meski antrean kendaraan tetap mengular, stok solar subsidi di pastikan tersedia. Pihak SPBU bersama aparat kepolisian terus melakukan pengawasan agar proses pengisian berjalan tertib, aman, dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
