Mengapa Perempuan Lebih Sering Mengalami Migrain? Ini Kaitannya dengan Hormon dan Cara Mengatasinya

🔊 Dengarkan Berita
Klik Dengarkan untuk mendengarkan berita
Bagikan Berita

Migrain pada perempuan lebih sering berkaitan dengan perubahan hormon. Kenali pemicu, gejala, dan cara mengatasinya.

Ringkasan Berita
  1. Migrain lebih sering di alami perempuan di bandingkan laki-laki dan perbedaan tersebut berkaitan, antara lain, dengan pengaruh perubahan hormonal.
  2. Penurunan estrogen menjelang menstruasi dapat memicu migrain pada perempuan yang rentan, termasuk migrain yang berkaitan dengan menstruasi.
  3. Pola tidur, hidrasi, pola makan, olahraga dan pengelolaan stres dapat membantu mengurangi pemicu migrain, sementara penggunaan obat berlebihan justru dapat menyebabkan sakit kepala akibat penggunaan obat berlebihan.

Bengkulu, Ngenelo.net, – Migrain lebih sering di alami perempuan dibandingkan laki-laki. Perbedaan ini bukan sekadar kebetulan. Perubahan hormon, terutama estrogen, di ketahui memiliki kaitan dengan munculnya atau memburuknya serangan migrain pada sebagian perempuan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut migrain lebih banyak terjadi pada perempuan dan kemungkinan berkaitan dengan pengaruh hormonal. Migrain umumnya mulai muncul sekitar masa pubertas dan dapat mencapai frekuensi tinggi pada usia dewasa.

Mengapa Migrain Lebih Banyak Terjadi pada Perempuan?

Salah satu faktor yang membedakan migrain pada perempuan dan laki-laki adalah perubahan hormon sepanjang kehidupan perempuan.

American Migraine Foundation menjelaskan bahwa setelah pubertas, angka kejadian migrain meningkat pada perempuan. Kondisi ini juga dapat berkaitan dengan siklus menstruasi. Perubahan kadar estrogen menjadi salah satu faktor yang dapat memicu serangan pada perempuan yang rentan mengalami migrain.

Penurunan estrogen menjelang menstruasi dapat menjadi pemicu. Karena itu, sebagian perempuan mengalami serangan migrain pada periode tertentu dalam siklus menstruasi.

Kondisi tersebut di kenal sebagai menstrual migraine atau migrain yang berkaitan dengan menstruasi. Serangan dapat muncul sekitar dua hari sebelum menstruasi dan berlanjut hingga beberapa hari setelah menstruasi dimulai.

Namun, hormon bukan satu-satunya penyebab. Migrain merupakan kondisi neurologis yang dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk faktor genetik dan lingkungan. Kurang tidur, stres, perubahan cuaca, dehidrasi, alkohol, makanan tertentu, serta perubahan pola makan juga dapat menjadi pemicu pada sebagian orang.

Mengapa Migrain Bisa Berubah Saat Menstruasi, Hamil, atau Menopause?

Pola migrain pada perempuan dapat berubah seiring perubahan hormon.

Menjelang menstruasi, penurunan estrogen dapat meningkatkan kemungkinan munculnya migrain. Sebaliknya, ketika kadar estrogen meningkat dan lebih stabil selama kehamilan, sebagian perempuan mengalami penurunan frekuensi migrain. Namun, kondisi setiap orang dapat berbeda.

Periode menjelang menopause atau perimenopause juga dapat menjadi masa ketika migrain berubah. Fluktuasi hormon yang terjadi pada fase tersebut dapat membuat serangan lebih sering atau lebih berat pada sebagian perempuan.

Setelah menopause, migrain pada banyak perempuan dapat berkurang ketika perubahan hormon tidak lagi terjadi seperti sebelumnya. Meski demikian, tidak semua perempuan mengalami pola yang sama. Faktor lain seperti kurang tidur, stres atau pemicu nonhormonal tetap dapat menyebabkan serangan.

Apa yang Dapat Dilakukan Untuk Mengatasi Migrain?

Migrain tidak selalu dapat di cegah sepenuhnya, tetapi gejala dan frekuensinya dapat di kelola.

WHO menyebut penanganan migrain dapat mencakup obat untuk meredakan serangan, obat untuk mencegah serangan pada kondisi tertentu, perubahan gaya hidup, serta edukasi mengenai pemicu migrain.

Salah satu langkah sederhana adalah mengenali pola serangan. Perempuan yang menduga migrainnya berkaitan dengan menstruasi dapat mencatat waktu munculnya sakit kepala dan hubungannya dengan siklus menstruasi.

Mencatat pola tersebut dapat membantu dokter menentukan apakah serangan memang memiliki hubungan dengan perubahan hormonal sekaligus mengidentifikasi pemicu lain.

Pola tidur yang teratur, cukup minum, makan secara teratur, olahraga, serta mengelola stres juga dapat membantu mengurangi pemicu migrain pada sebagian orang. WHO merekomendasikan perubahan gaya hidup seperti tidur dan olahraga teratur, pola makan sehat, menjaga hidrasi, serta membuat catatan sakit kepala untuk membantu mengenali pemicu.

Obat Migrain Jangan Digunakan Berlebihan

Obat pereda nyeri bisa untuk membantu mengatasi serangan migrain, tetapi penggunaannya perlu mengikuti petunjuk tenaga kesehatan atau aturan obat.

Penggunaan obat sakit kepala secara berlebihan justru dapat menyebabkan medication-overuse headache, yaitu sakit kepala yang berkaitan dengan penggunaan obat secara berlebihan. WHO memasukkan kondisi ini sebagai salah satu gangguan sakit kepala sekunder yang paling umum.

Karena itu, perempuan yang mengalami migrain berulang atau harus sering mengonsumsi obat pereda nyeri sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan strategi pengobatan yang sesuai.

Pada sebagian penderita, dokter dapat mempertimbangkan obat khusus untuk migrain atau terapi pencegahan, tergantung frekuensi, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan pasien.

Bagaimana dengan Penggunaan Obat atau Terapi Hormonal?

Karena perubahan estrogen dapat berhubungan dengan migrain, terapi yang memengaruhi hormon terkadang di pertimbangkan dalam kondisi tertentu.

Namun, terapi hormonal bukan solusi yang cocok untuk semua perempuan. American Migraine Foundation mencatat bahwa kontrasepsi hormonal dapat membantu sebagian perempuan dengan migrain yang berkaitan dengan menstruasi, tetapi pada sebagian lainnya justru dapat memperburuk sakit kepala.

Perempuan yang mengalami migrain dengan aura juga perlu membicarakan pilihan kontrasepsi dengan dokter. Hal ini penting karena kontrasepsi yang mengandung estrogen dapat memiliki pertimbangan risiko tertentu pada perempuan dengan migrain di sertai aura.

Karena itu, terapi hormonal sebaiknya tidak di mulai sendiri hanya karena migrain di duga berkaitan dengan menstruasi.

Kapan Migrain Perlu Diperiksa?

Migrain yang berulang, semakin berat, mengganggu aktivitas, atau membutuhkan obat secara terus-menerus sebaiknya di periksakan kepada tenaga kesehatan.

Selain itu, sakit kepala yang tiba-tiba sangat hebat, di sertai gangguan bicara, kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh, gangguan penglihatan, kebingungan, kejang, demam tinggi, atau muncul setelah cedera kepala membutuhkan pertolongan medis segera karena gejala tersebut dapat menunjukkan kondisi lain yang lebih serius.

Pada akhirnya, lebih seringnya migrain pada perempuan memiliki kaitan kuat dengan perubahan hormonal, terutama fluktuasi estrogen, tetapi hormon bukan satu-satunya faktor. Mengenali pola serangan, menjaga pola hidup teratur, menghindari pemicu yang di ketahui, serta mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat dapat membantu mengendalikan migrain.

Pertanyaan Seputar Migrain pada Perempuan

Mengapa perempuan lebih sering mengalami migrain?
Migrain lebih sering terjadi pada perempuan dan salah satu faktor yang berperan adalah perubahan hormonal, terutama fluktuasi estrogen sepanjang siklus menstruasi dan fase kehidupan perempuan.
Mengapa migrain sering muncul menjelang menstruasi?
Penurunan kadar estrogen menjelang menstruasi dapat menjadi salah satu pemicu migrain pada perempuan yang sensitif terhadap perubahan hormonal.
Bagaimana caranya untuk mengurangi migrain?
Menjaga pola tidur dan makan tetap teratur, mencukupi kebutuhan cairan, berolahraga, mengelola stres, mengenali pemicu dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mengendalikan migrain.
Apakah obat sakit kepala boleh terus-menerus?
Obat untuk mengatasi migrain tidak boleh secara berlebihan. Karena penggunaan obat sakit kepala secara berlebihan dapat memicu medication-overuse headache.
Kapan sakit kepala harus segera mendapat pertolongan medis?
Sakit kepala yang tiba-tiba sangat hebat, di sertai gangguan bicara, kelemahan atau mati rasa, gangguan penglihatan, kejang, kebingungan, demam tinggi atau muncul setelah cedera kepala membutuhkan pertolongan medis segera.