Terumbu Karang Pulau Tikus di pulihkan lewat penanaman 760 bibit di tiga titik untuk menjaga ekosistem laut Bengkulu.
- Terumbu Karang Pulau Tikus mendapat rehabilitasi melalui penanaman 760 bibit di tiga titik perairan.
- Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menggandeng Stars Diving Bengkulu dan masyarakat dalam kegiatan konservasi.
- Sebanyak 40 rak spider digunakan sebagai media transplantasi dengan tiga variasi kedalaman.
- Pertamina menargetkan tingkat keberhasilan pertumbuhan karang mencapai 80 persen.
- Program konservasi juga melibatkan Pokdarwis dan mendukung SDGs, khususnya Tujuan 14 dan Tujuan 17.
NGENELO.NET, BENGKULU, – Pulau Tikus Bengkulu kembali mendapat perhatian serius dalam upaya menjaga ekosistem pesisir. Sebanyak 760 bibit Terumbu Karang di tanam di Pulau Tikus di tiga titik perairan oleh Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Fuel Terminal Pulau Baai bersama Stars Diving Bengkulu dan masyarakat, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Selain memulihkan ekosistem bawah laut, kegiatan ini juga menjadi langkah untuk menjaga kawasan Pulau Tikus yang menghadapi tekanan abrasi dalam beberapa tahun terakhir.
Pulau kecil yang berada di lepas pantai Kota Bengkulu itu memiliki nilai penting bagi lingkungan, wisata bahari, serta kehidupan berbagai biota laut. Karena itu, keberadaan terumbu karang tidak hanya berkaitan dengan keindahan bawah laut, tetapi juga berfungsi sebagai salah satu penyangga alami kawasan pesisir.
Terumbu Karang Ditanam di Tiga Kedalaman
Dalam program konservasi tersebut, tim menggunakan 40 rak spider sebagai media transplantasi. Setiap rak berisi 19 bibit terumbu karang sehingga total bibit yang ditanam mencapai 760.
Kemudian, tim menempatkan rak-rak tersebut pada tiga kedalaman berbeda. Titik pertama berada pada kedalaman sekitar 2 meter, sedangkan titik berikutnya berada pada kedalaman 4–5 meter dan 6–7 meter.
Pemilihan beberapa kedalaman tersebut menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi. Sebab, kondisi lingkungan bawah laut dapat berbeda berdasarkan kedalaman, termasuk intensitas cahaya, arus, gelombang, serta karakteristik dasar perairan.
Metode spider juga bukan pendekatan yang sepenuhnya baru di kawasan tersebut. Penelitian rehabilitasi terumbu karang di Perairan Pulau Tikus sebelumnya telah menggunakan metode serupa dan menunjukkan potensi kelangsungan hidup karang yang baik pada kedalaman tertentu.
Oleh karena itu, penanaman kali ini tidak hanya mengejar jumlah bibit. Tim juga perlu memantau pertumbuhan karang secara berkala agar program benar-benar menghasilkan pemulihan ekosistem dalam jangka panjang.
Target keberhasilan pertumbuhan pun cukup tinggi. Pertamina menargetkan tingkat keberhasilan tumbuh mencapai 80 persen.
Terumbu Karang Pulau Tikus Jadi Penyangga Pesisir Bengkulu
Abrasi menjadi salah satu persoalan yang membuat kondisi Pulau Tikus perlu mendapat perhatian. Gelombang laut secara terus-menerus dapat mengikis daratan pulau kecil tersebut sehingga luas wilayah daratannya berpotensi semakin menyusut.
Dalam kondisi tersebut, ekosistem Terumbu Karang Pulau Tikus memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar objek wisata bawah laut.
Terumbu karang menyediakan habitat bagi berbagai jenis biota laut. Ikan, moluska, krustasea, dan organisme laut lainnya bergantung pada ekosistem karang untuk mencari makan, berlindung, maupun berkembang biak.
Selain itu, struktur terumbu karang dapat membantu meredam energi gelombang sebelum mencapai kawasan pesisir. Dengan demikian, kondisi terumbu yang sehat dapat mendukung ketahanan kawasan pesisir terhadap tekanan lingkungan.
Karena itu, kerusakan terumbu karang tidak hanya berdampak pada kehidupan bawah laut. Dampaknya juga dapat merembet ke sektor pariwisata dan aktivitas masyarakat yang menggantungkan manfaat dari ekosistem laut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu, Anshar Amin, mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam kegiatan tersebut.
“Konservasi membutuhkan aksi nyata dan keterlibatan banyak pihak. Apa yang dilakukan hari ini menjadi langkah positif untuk memulihkan terumbu karang sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan laut Bengkulu,” ungkap Anshar.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemulihan ekosistem membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, perusahaan, komunitas penyelam, kelompok masyarakat, dan wisatawan memiliki peran masing-masing dalam menjaga kawasan Pulau Tikus.
Libatkan Masyarakat dan Pokdarwis
Upaya menjaga Terumbu Karang di Pulau Tikus juga melibatkan masyarakat secara langsung. Selain tim penyelam, kegiatan konservasi tersebut mengajak kelompok sadar wisata (Pokdarwis) binaan Pertamina.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena keberlanjutan konservasi tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan penanaman. Setelah bibit berada di dasar laut, tim tetap membutuhkan pemantauan dan perawatan.
Dengan melibatkan Pokdarwis, masyarakat dapat memahami hubungan antara kesehatan ekosistem laut dan keberlanjutan wisata Pulau Tikus. Terumbu karang yang terawat dapat mempertahankan daya tarik wisata bahari sekaligus mendukung keberadaan biota laut.
Selanjutnya, masyarakat juga dapat ikut menjaga kawasan dari aktivitas yang berpotensi merusak karang. Edukasi seperti ini penting karena terumbu karang membutuhkan waktu untuk tumbuh dan membentuk ekosistem yang stabil.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan pihaknya ingin menjadikan penanaman tersebut sebagai awal dari program pemulihan yang berkelanjutan.
“Penanaman ini bukan sekadar menambah jumlah terumbu karang, tetapi menjadi langkah awal untuk memulihkan ekosistem Pulau Tikus. Kami menargetkan tingkat keberhasilan tumbuh mencapai 80 persen, sehingga pemantauan dan perawatan perlu dilakukan bersama,” ujar Rusminto.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dan Pokdarwis di harapkan dapat memperkuat kepedulian terhadap kelestarian Pulau Tikus sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Terumbu Karang Pulau Tikus Perkuat Wisata Bahari
Keberadaan Terumbu Karang di Pulau Tikus memiliki hubungan erat dengan potensi wisata bahari Bengkulu. Pulau tersebut selama ini menjadi salah satu tujuan masyarakat untuk menikmati panorama laut dan aktivitas bawah air.
Namun, daya tarik wisata bahari tidak dapat bertahan jika ekosistem pendukungnya mengalami kerusakan. Karena itu, konservasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pariwisata.
Terumbu karang yang sehat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung keberagaman biota laut. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan daya tarik aktivitas snorkeling dan penyelaman.
Di sisi lain, masyarakat juga memperoleh manfaat ekonomi secara tidak langsung dari keberadaan wisatawan. Pelaku jasa transportasi laut, pemandu wisata, penyedia perlengkapan, hingga usaha kuliner dapat ikut merasakan dampaknya.
Oleh sebab itu, rehabilitasi terumbu karang memiliki manfaat yang saling berkaitan. Lingkungan yang sehat mendukung keanekaragaman hayati, kemudian ekosistem yang terjaga dapat memperkuat wisata, sementara wisata yang berkembang secara berkelanjutan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.
Terumbu Karang di Pulau Tikus Sejalan dengan Target SDGs
Program konservasi tersebut juga sejalan dengan dukungan Pertamina terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Pertama, kegiatan tersebut mendukung Tujuan 14 atau Ekosistem Lautan melalui upaya menjaga dan memulihkan ekosistem laut. Penanaman 760 bibit menjadi bentuk aksi langsung untuk memperbaiki kondisi terumbu karang di kawasan Pulau Tikus.
Selain itu, kegiatan tersebut mendukung Tujuan 17 atau Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, komunitas penyelam, Pokdarwis, dan masyarakat menjadi contoh bahwa konservasi membutuhkan kerja lintas pihak.
Namun, keberhasilan program tidak cukup di ukur dari jumlah bibit yang di tanam. Indikator penting berikutnya adalah tingkat kelangsungan hidup karang, pertumbuhan koloni, kondisi lingkungan sekitar, serta konsistensi pemantauan.
Target pertumbuhan hingga 80 persen karena itu menjadi bagian penting dari program. Pemantauan berkala akan menentukan apakah proses transplantasi berjalan sesuai harapan atau membutuhkan tindakan lanjutan.
Pada akhirnya, penanaman 760 bibit tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial memperingati HKAN 2026. Program itu menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menjaga Pulau Tikus sebagai kawasan pesisir yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan ekonomi bagi Bengkulu.
Keberhasilan Terumbu Karang di Pulau Tikus akan sangat bergantung pada konsistensi perawatan setelah penanaman. Karena itu, kolaborasi yang telah terbentuk perlu terus berjalan agar bibit yang di tanam dapat tumbuh, berkembang, dan kembali memperkuat ekosistem laut Pulau Tikus.
