NGENELO.NET, KEPAHIANG – Jumlah anak dengan berisiko stunting di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu masih cukup tinggi. Ini tentunya, jadi tantangan besar bagi daerah untuk menekan jumlah anak berisiko stunting di Kabupaten Kepahiang.
Dari pendataan awal, di Kabupaten Kepahiang masih tersebar 300 anak berisiko stunting. Dari jumlah anak berisiko stunting tersebut, 60 anak berstatus stunting. Diwawancarai, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Kepahiang, Linda Rospita menyampaikan penanganan anak berisiko stunting terus berjalan.
Salah upaya yang dilakukan dengan memaksimalkan program bapak asuh. “Data di kita, sudah ada 43 bapak asuh,” kata Linda. Pihaknya pun berharap, makin banyak warga di Kabupaten Kepahiang berinisiatif sebagai bapak asuh.
Dalam program bapak asuh, alokasi dana yang di salurkan akan di kawal 399 kader yang merupakan tim pendampingan di seluruh wilayah Kabupaten Kepahiang. Dari sini, pola makan anak akan di pantau agar asupan kadar gizi yang masuk sesuai dengan kebutuhan tubuh. “Kita sudah hitung, kebutuhan normal untuk 1 anak asuh di kisaran Rp450 ribu saja,” tambah Linda.
Dengan program yang ada, pihaknya tetap optimis dapat menciptakan Kabupaten Kepahiang menjadi zero stunting pada 2030 mendatang. Sejauh ini, beberapa desa telah di klaim zero stunting. Seperti, Desa Desa Permu Kecamatan Kepahiang, Desa Tugu Rejo Kecamatan Kabawetan, Desa Air Sempiang Kecamatan Kabawetan, Desa Babakan Bogor Kecamatan Kabawetan dan Desa Tapak Gedung Kecamatan Tebat Karai.
Tercatat, Kabupaten Kepahiang telah mendapatkan penilaian Kinerja Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting terbaik se Provinsi Bengkulu di tahun 2025. Di mana Kabupaten Kepahiang mendapatkan penilaian 93. Angka stunting di Kabupaten Kepahiang sudah di angka 17 persen saja, dari sebelumnya di angka 22 persen.
Cegah Stunting Sejak Dini
Sebagai informasi, stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang di sebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016).
Diketahui, stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK tidak hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan fisik dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, tetapi juga mengancam perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan saat ini dan produktivitas anak di masa dewasanya.
Stunting pada anak akan berlanjut hingga ia beranjak usia dewasa. Jadi sebelum stunting memberikan dampak pada tumbuh dan kembang anak secara menyeluruh, maka stunting harus di cegah. Upaya untuk pencegahan stunting dapat di lakukan dengan beberapa pola.
Mulai dari pemberian pola asuh yang tepat, pemberian MPASI yang optimal, pengobatan penyakit yang di alami anak, perbaikan kebersihan lingkungan. Serta yang tak kalah penting adalah, bagaimana keluarga dapat menerapkan hidup bersih di lingkungannya masing-masing.
