Gajah Sumatera Bengkulu Terdeteksi Drone Thermal, BKSDA Temukan 17 Ekor di Seblat

Gajah sumatera Bengkulu terpantau drone thermal BKSDA di Bentang Alam Seblat, di temukan 17 ekor termasuk anakan.

Ringkasan Berita
  • Gajah sumatera Bengkulu berhasil di pantau menggunakan drone thermal oleh BKSDA di kawasan Bentang Alam Seblat.
  • Petugas menemukan satu kelompok gajah liar berjumlah 17 ekor yang terdiri dari empat anakan dan 13 remaja hingga dewasa.
  • Penggunaan drone thermal menjadi metode baru untuk memantau satwa liar tanpa mengganggu habitat alami.
  • Monitoring ini setelah kasus kematian dua gajah dan satu harimau yang memicu perhatian publik terhadap kondisi habitat Seblat.

BENGKULU, NGENELO.NET, – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu mulai menggunakan teknologi drone thermal untuk memantau gajah sumatera Bengkulu di kawasan Bentang Alam Seblat (BAS). Hasil monitoring perdana tersebut langsung menunjukkan temuan penting setelah petugas mendeteksi satu kelompok gajah liar berjumlah 17 ekor.

Kelompok gajah itu terdiri dari empat anakan dan 13 remaja hingga dewasa. Temuan tersebut menjadi kabar positif di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kasus kematian satwa liar di kawasan konservasi Bengkulu dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, keberadaan empat anakan memperlihatkan bahwa proses reproduksi gajah sumatera masih berlangsung di habitat alami Bentang Alam Seblat. Kondisi ini di nilai penting karena populasi gajah sumatera terus menghadapi tekanan akibat konflik manusia dan satwa liar serta kerusakan habitat.

Kepala BKSDA Bengkulu, Agung Nugroho, mengatakan penggunaan drone thermal menjadi metode pertama yang di terapkan untuk monitoring gajah liar di kawasan tersebut.

“Dari hasil monitoring tersebut, teridentifikasi satu kelompok gajah liar berjumlah 17 ekor, terdiri dari 4 ekor anakan dan 13 ekor remaja hingga dewasa,” kata Agung dikutip Minggu (10/5/2026).

Temuan itu sekaligus memperkuat posisi Bentang Alam Seblat sebagai salah satu habitat penting bagi kelangsungan hidup gajah sumatera di Pulau Sumatera.

Gajah Sumatera Bengkulu Dipantau dengan Teknologi Drone Thermal

Penggunaan teknologi drone thermal menjadi langkah baru BKSDA Bengkulu dalam memantau pergerakan gajah sumatera Bengkulu di kawasan hutan konservasi. Selama ini, proses monitoring satwa liar menghadapi berbagai kendala karena medan hutan yang luas dan sulit di jangkau petugas.

Melalui drone thermal, petugas dapat mendeteksi keberadaan satwa berdasarkan suhu tubuh yang tertangkap kamera khusus. Teknologi tersebut di nilai lebih efektif karena mampu bekerja pada malam hari maupun di area dengan vegetasi rapat.

Selain itu, metode ini membantu petugas memantau populasi gajah tanpa memberikan gangguan signifikan terhadap perilaku alami satwa liar. Hal tersebut menjadi penting karena interaksi langsung dengan manusia berpotensi memicu stres pada satwa.

Agung menyebut penggunaan drone thermal merupakan terobosan baru dalam upaya konservasi satwa di lindungi di Bengkulu.

“Penggunaan drone thermal dalam monitoring gajah liar di Bentang Alam Seblat merupakan terobosan baru yang sangat membantu tim di lapangan,” ujarnya.

Selain membantu pemantauan populasi, data dari drone thermal juga akan digunakan sebagai dasar penyusunan langkah perlindungan habitat yang lebih tepat sasaran. Dengan data yang lebih akurat, pengawasan kawasan konservasi dapat dilakukan lebih efektif.

Kemudian, teknologi ini dinilai mampu mempercepat respons petugas jika terjadi potensi konflik antara manusia dan gajah liar di sekitar kawasan hutan.

BKSDA Bengkulu menilai penggunaan teknologi modern menjadi kebutuhan mendesak dalam konservasi satwa liar. Sebab, ancaman terhadap gajah sumatera terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Gajah Sumatera Bengkulu Masih Hadapi Ancaman Serius

Monitoring terhadap gajah sumatera Bengkulu dilakukan setelah muncul kasus kematian dua gajah liar di Kabupaten Mukomuko beberapa waktu lalu. Selain itu, sejumlah kasus kematian gajah juga pernah terjadi di kawasan Bentang Alam Seblat pada tahun-tahun sebelumnya.

Karena itu, pengawasan terhadap populasi gajah liar kini menjadi perhatian utama pemerintah dan pegiat lingkungan. Ancaman terhadap gajah sumatera tidak hanya berasal dari konflik dengan manusia, tetapi juga akibat kerusakan habitat yang semakin meluas.

Perambahan kawasan hutan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan di sebut mempersempit ruang jelajah satwa liar. Akibatnya, konflik antara manusia dan gajah semakin sering terjadi di wilayah penyangga hutan.

Sorotan terhadap kondisi Bentang Alam Seblat juga datang dari MAHUPALA Universitas Bengkulu. Organisasi mahasiswa pecinta alam tersebut meminta aparat penegak hukum mengusut dugaan kejahatan korporasi di kawasan konservasi.

Ketua Umum MAHUPALA UNIB, Fathi, menilai kematian satwa di lindungi bukan sekadar kejadian biasa.

“Pembunuhan ekologis berulang yang mencerminkan kekerasan struktural terhadap kehidupan lebih dari manusia. Ketika habitat hancur, bukan hanya individu yang mati melainkan seluruh jaring kehidupan yang terputus,” kata Fathi.

Menurutnya, kerusakan habitat menjadi penyebab utama meningkatnya konflik manusia dan satwa liar di kawasan Seblat. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah memperkuat perlindungan kawasan hutan konservasi.

Selain itu, perhatian publik terhadap kasus kematian satwa liar di nilai menjadi momentum penting untuk memperkuat upaya penyelamatan gajah sumatera di Bengkulu.

Gajah Sumatera Bengkulu Jadi Harapan Konservasi di Seblat

Keberadaan empat anakan dalam kelompok gajah liar yang terpantau drone thermal menjadi indikator penting bahwa habitat Bentang Alam Seblat masih mendukung proses regenerasi alami gajah sumatera.

BKSDA Bengkulu menyebut kelompok yang berhasil di pantau tersebut baru satu dari beberapa kelompok gajah liar yang berada di kawasan Bentang Alam Seblat. Karena itu, monitoring akan terus dilakukan secara berkelanjutan.

Selain pemantauan populasi, pengamanan habitat juga menjadi fokus utama agar keberadaan gajah sumatera tetap terjaga untuk generasi mendatang.

“Kami berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga habitat gajah sumatera dan mendukung upaya konservasi yang sedang dilakukan,” tambah Agung.

Kementerian Kehutanan juga mengajak seluruh pihak mendukung pelestarian gajah sumatera beserta habitatnya. Dukungan masyarakat dianggap penting karena konservasi tidak dapat berjalan hanya mengandalkan pemerintah dan petugas lapangan.

Selain itu, penggunaan drone thermal di nilai membuka peluang baru dalam sistem konservasi modern di Indonesia. Teknologi tersebut memungkinkan pemantauan satwa bisa lebih cepat, aman, dan efisien.

Jika perlindungan habitat berjalan konsisten, Bentang Alam Seblat berpotensi menjadi salah satu benteng terakhir populasi gajah sumatera di Sumatera bagian selatan. Namun sebaliknya, jika kerusakan hutan terus terjadi, ancaman kepunahan satwa dilindungi itu akan semakin sulit di cegah.

Karena itu, temuan 17 gajah liar di Seblat tidak hanya menjadi kabar baik bagi dunia konservasi, tetapi juga pengingat bahwa perlindungan hutan harus secara serius dan berkelanjutan.

Pertanyaan Seputar Gajah Sumatera Bengkulu

Berapa jumlah gajah liar yang di temukan di Bentang Alam Seblat?
BKSDA Bengkulu menemukan satu kelompok gajah liar berjumlah 17 ekor yang terdiri dari empat anakan dan 13 remaja hingga dewasa.
Apa fungsi drone thermal dalam monitoring gajah sumatera?
Drone thermal di gunakan untuk mendeteksi keberadaan gajah liar melalui suhu tubuh satwa sehingga pemantauan dapat dilakukan tanpa mengganggu habitat alami.
Mengapa keberadaan anakan gajah di anggap penting?
Keberadaan anakan menunjukkan proses reproduksi dan regenerasi populasi gajah sumatera masih berlangsung di habitat alami Bentang Alam Seblat.
Apa ancaman terbesar bagi gajah sumatera di Bengkulu?
Ancaman terbesar meliputi konflik manusia dan satwa liar, perambahan hutan, kerusakan habitat, serta alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan.
Mengapa Bentang Alam Seblat penting bagi gajah sumatera?
Bentang Alam Seblat menjadi salah satu habitat penting bagi kelangsungan hidup gajah sumatera karena masih mendukung proses berkembang biak satwa liar tersebut.