Abu Nawas Bawa Ribuan Semut, Giliran Abu Jahil Dibuat Jatuh PingsanAbu Nawas Bawa Ribuan Semut, Giliran Abu Jahil Dibuat Jatuh Pingsan

Abu Nawas Bawa Ribuan Semut, Giliran Abu Jahil Dibuat Jatuh Pingsan

NIATAN Abu Jahil seorang pejabat Istana untuk mengerjai Abu Nawas sia-sia. Dengan kecerdikannya, Abu Nawas membawa ribuan semut dalam sebuah tonggak bambu, untuk memenangkan sayembara.

Sayembara yang semula sudah diakali Abu Jahil malah berbalik untuk kemenangan Abu Nawas. Abu Jahil pun sampai pingsan dibuatkan.

Sayembara apa yang kali ini kembali dimenangkan Abu Nawas? Simak ceritanya hingga tuntas.

Pada suatu hari yang cerah, Raja Harun Ar-Rasyid dan para pengawalnya meninggalkan istana untuk berburu.

Namun, di tengah perjalanan, salah satu pejabat kerajaan yang bernama Abu Jahil menyusul dengan terengah-engah di atas kudanya.

“Baginda… Baginda…. hamba mau mengusulkan sesuatu” katanya Abu Jahil mendekati sang Raja. “Apa usulmu itu wahai Abu Jahil?… tanya Raja.

“Agar acara berburu ini menarik dan di saksikan banyak penduduk, bagaimana kalau kita sayembarakan saja?” ujar Abu Jahil dengan raut wajah serius.

Baginda Raja terdiam sejenak dan mengangguk-angguk.

“Hamba ingin beradu ketangkasan dengan Abu nawas, dan nanti pemenangnya akan mendapatkan sepundi uang emas.

Tapi, kalau kalah, hukumannya adalah dengan memandikan kuda-kuda istana selama 1 bulan” tutur Abu Jahil
meyakinkan Raja.

Akhirnya sang Raja menyetujui usulan Abu Jahil tersebut. Hitung-hitung sayembara itu akan memberikan hiburan kepadanya.

Maka, di panggillah Abu nawas untuk menghadap, dan setelah menghadap Raja Harun, Abu nawas pun di beri petunjuk panjang lebar.

Akal Bulus

Pada awalnya, Abu nawas menolak sayembara tersebut karena ia tahu bahwa semua ini adalah akal bulus dari Abu Jahil yang ingin menyingkirkannya dari istana.

Tapi Baginda Raja Harun memaksa dan Abu nawas tidak bisa menolak. Abu nawas berpikir sejenak, Ia tahu kalau Abu Jahil sekarang di angkat menjadi pejabat istana.

Ia pasti mengerahkan semua anak buahnya untuk menyumbang seekor binatang buruannya di hutan nanti.

Namun, karena kecerdikannya, Abu nawas malah tersenyum riang. Abu Jahil yang melihat perubahan raut muka Abu nawas menjadi penasaran di buatnya.

Batinnya berkata mana mungkin Abu nawas bisa mengalahkan dirinya kali ini.

Akhirnya, Baginda menggiring mereka ke tengah alun-alun istana. Raja dan seluruh rakyat menunggu, siapa yang bakal menjadi pemenang dalam lomba berburu ini.

Terompet tanda mulai adu ketangkasan pun di tiup. Abu Jahil segera memacu kudanya secepat kilat menuju hutan belantara.

Anehnya, Abu nawas justru sebaliknya, dia dengan santainya menaiki kudanya sehingga para penonton banyak yang berteriak.

Menjelang sore hari, tampaklah kuda Abu Jahil memasuki pintu gerbang istana. Ia pun mendapat sambutan meriah dan tepuk tangan dari rakyat yang menyaksikannya.

Di sisi kanan dan kiri kuda Abu Jahil tampak puluhan hewan yang mati terpanah.

Abu Jahil dengan senyum bangga memperlihatkan semua binatang buruannya di tengah lapangan.
“…Aku, Abu Jahil berhak memenangkan lomba ini. Lihat.. binatang buruanku banyak.

Mana mungkin Abu nawas mengalahkanku?…” teriaknya lantang yang membuat para penonton semakin ramai bertepuk tangan.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara kaki kuda Abu nawas. Semua orang menertawakan dan meneriakinya karena Abu nawas tak membawa satupun binatang buruan di kudanya.

Abu Jahil Pingsan

Tapi, Abu nawas tidak tampak gusar sama sekali. Ia malah tersenyum dan melambaikan tangan.

Baginda Raja menyuruh kepada 2 orang pengawalnya maju ke tengah lapangan dan menghitung jumlah binatang buruan yang di dapatkan 2 peserta tersebut.

Dan kesempatan pertama, para pengawal menghitung jumlah binatang hasil buruan dari Abu Jahil.
“Tiga puluh lima ekor kelinci, di tambah lima ekor rusa dan dua ekor babi hutan, kata salah satu pengawal”.

“Kalau begitu akulah pemenangnya karena Abu nawas tak membawa seekor binatang pun,” teriak Abu Jahil dengan sombongnya.

“Tenang… tenang…. aku membawa ribuan binatang. Jelaslah aku pemenangnya dan engkau wahai Abu Jahil, silahkan memandikan kuda-kuda istana.

Menurut aturan lomba, semua binatang boleh di tangkap, yang penting jumlahnya,” kata Abu nawas sambil membuka bambu kuning yang telah di isi dengan ribuan semut merah.

“Jumlahnya sangat banyak Baginda, mungkin ribuan, kami tak sanggup menghitungnya lagi,” kata pengawal kerajaan yang menghitung jumlah semut itu.

Melihat kenyataan itu, Abu Jahil tiba-tiba saja jatuh pingsan. Baginda Raja tertawa terpingkal-pingkal dan langsung memberi hadiah kepada Abu nawas.

Kecerdikan dan ketulusan hati pasti bisa mengalahkan kelicikan. Abu Nawas tetap di senangi rakyat dan raja.

Dapatkan Artikel Lainnya diGoogle News