Bengkulu, Ngenelo.net, – Rupiah ke Dolar Amerika melemah tajam pekan ini. Sentimen politik dalam negeri dan faktor eksternal menekan laju rupiah di pasar global.
Mengutip Refinitiv, Jumat (29/8/2025), rupiah ke dolar Amerika di tutup di level Rp16.485 per dolar. Pelemahan harian mencapai 0,87% sekaligus yang terbesar sejak April 2025. Level itu menjadi titik terlemah dalam sebulan terakhir.
Dalam sepekan, rupiah ambruk 0,9%. Padahal pekan sebelumnya masih menguat tipis 0,09%. Tekanan ini datang seiring gejolak demonstrasi di berbagai daerah.
Demonstrasi dan Faktor Tekanan Rupiah ke Dolar Jeblok
Gelombang aksi berlangsung sejak Senin (25/8/2025) hingga Kamis (28/8/2025). Puncaknya terjadi saat insiden tragis menimpa seorang pengemudi ojek online yang tertabrak kendaraan taktis Brimob di Pejompongan, Jakarta Selatan.
Aksi itu menyulut kemarahan publik. Jumat (29/8/2025), ribuan massa kembali turun ke jalan. Bahkan, sabtu malam terjadi penjarahan di rumah beberapa anggota DPR. Situasi ini ikut menekan rupiah.
Namun, pelemahan rupiah tidak hanya karena demonstrasi. Investor global juga melakukan aksi ambil untung. “Akhir bulan mereka harus tarik atau realisasikan keuntungan. Kebetulan timing-nya ada demo,” ujar Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto.
Faktor Eksternal Penyebab Rupiah ke Dolar Melemah
Selain aksi domestik, faktor eksternal juga menekan rupiah ke dolar Amerika. Tingginya permintaan dolar untuk pembayaran utang luar negeri dan impor memperparah tekanan.
Pasar kini menunggu data inflasi AS, khususnya PCE Inflation. Jika data turun, rupiah berpeluang rebound karena dolar AS bisa melemah. Stabilitas politik di dalam negeri tetap menjadi faktor penting arah rupiah ke depan.
Tak hanya rupiah, mata uang Asia lain juga berguguran. Peso Filipina jatuh usai pemangkasan suku bunga. Rupee India anjlok ke level 88 per dolar AS, terendah sepanjang sejarah.
Yuan China Jadi Sorotan
Di tengah gejolak Asia, China justru tampil percaya diri. People’s Bank of China (PBOC) menaikkan kurs tengah harian yuan terhadap dolar dengan margin terbesar dalam setahun.
Analis menilai langkah itu sebagai sinyal strategi baru. Bukan hanya stabilisasi, melainkan dorongan apresiasi yuan secara bertahap. Bagi pasar, yuan yang lebih kuat bisa menarik modal asing masuk kembali ke China.
Keputusan ini memperlihatkan keyakinan Beijing pada pemulihan ekonomi mereka. Sementara rupiah ke dolar Amerika masih tertekan, China justru memanfaatkan momentum untuk memperkuat posisinya di pasar global.